.
Home » , » Ide Gila! Membangun Tugu Kuntilanak, Penting kah? Syar'i kah?

Ide Gila! Membangun Tugu Kuntilanak, Penting kah? Syar'i kah?

Pemkot Kota Pontianak berencana membuat tugu Kuntilanak, sebagai icon kota Pontianak. Hal ini dimaksudkan agar dapat menarik wisatawan ke Kota Pontianak. Saya secara pribadi, jelas menolak hal ini karena:

[1]  Masih ada tugu yang namanya dikenal secara internasional, yakni tugu khatulistiwa. Pertanyaannya, kenapa meski memiliki tugu khatulistiwa, namun wisatawan tetap kurang tertarik datang ke Pontianak dengan alasan untuk melihat ke tugu khatulistiwa ini? so, Tugu khatulistiwa saja TIDAK membuat wisatawan tertarik, kenapa begitu yakin bahwa tugu kuntilanak akan membuat wisatawan tertarik? [silahkan jawab sendiri]

[2] Sebaiknya anggaran untuk membuat tugu kuntilanak, dialihkan untuk memperbaiki dan mengembangkan kawasan Tugu Khatulistiwa "yang tidak menarik itu", atau digunakan untuk menambah armada pasukan kuning (kebersihan), untuk membersihkan sampah-sampah di kota pontianak yang kini kian bertambah banyak volumenya, sehingga manfaatnya dirasakan oleh kebanyakan masyarakat kota Pontianak. Tidak seperti tugu kuntilanak, yang palingan hanya dijadikan tempat berfoto atau jangan-jangan cuma buat bundaran jalan raya?!

[3] Salah satu alasan lainnya untuk membangun Tugu Khatulistiwa, adalah karena ingin ikut-ikutan seperti kota kuching, malaysia, yang memiliki tugu kucing sebagai ikon kotanya. Saya jadi tambah heran, memangnya para wisatawan datang ke kuching itu dikarenakan adanya tugu kucing? dan sejak kapan kota kuching jadi kota tujuan wisata utama di Malaysia? lagipula, kenapa mesti ngikut-ngikut sedangkan Kota Pontianak sebenarnya telah memiliki tugu khasnya, tugu khatulistiwa.

[4] Jika ingin mengambil contoh wisata dari Malaysia, contohlah kota Kinabalu, Sabah.. bukan kota Kuching. Jika dikatakan bahwa Kota Pontianak lebih mirip kondisinya dengan Kota Kuching, karena Kinabalu lebih menekankan wisata alam gunung dan pantai yang itu tidak dimiliki Kota Pontianak. Maka sebenarnya Kota Pontianak memiliki potensi wisata alam juga, yakni sungai terpanjang di Indonesia, jika pemkot bisa menata DAS (Daerah Aliran Sungai) Kapuas agar seperti di luar negeri, saya rasa itu cukup menjanjikan menjadi penarik wisatawan, karena hanya ada di Kota Pontianak, tidak ada ditempat lain. Daripada hanya sekedar semen yang dibentuk mirip kuntilanak, di luar negeri juga banyak patung-patung setan.

[5] Jangan terpaku dengan membuat hal-hal yang baru, yang sudah ada saja dulu yang dimaksimalkan. Karena buat apa membuat hal yang baru, jika nantinya juga akan diabaikan.

 ~[]~

Terlepas dari itu semua, sebenarnya ada satu hal yang membuat saya sangat khawatir mengenai Tugu Kuntilanak ini, sehingga saya begitu 'peduli' dengan ide satu ini, seandainya hendak membuat tugu yang lain, tentu lah tidak akan saya perdulikan.... lalu kenapa? yakni karena ada potensi, tugu ini untuk menjadi tempat kesyirikan.

Ya ikhwah, ini adalah patung dari seorang kalangan JIN! Kuntilanak itu dari kalangan JIN, bukan manusia.

“Sesungguhnya Ummi Habibah dan Ummi Salamah –radhiyallahu ‘anhuma- pernah bercerita kepada  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang sebuah gereja yang dilihatnya di Habasyah, yang di dalamnya terdapat patung dan gambar-gambar. Mendengar itu,  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; mereka itu adalah orang-orang yang bila seorang laki-laki shaleh diantara mereka meninggal, maka mereka pun membangun tempat ibadah di atas kuburannya dan membuat patung serta lukisannya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, (1 / 437)

Membuat patung orang yang shaleh saja masih dicela, apalagi patung seorang JIN!

lho?? tapi kan ini hanya TUGU, bukan untuk disembah..

Ketahuilah, sesungguhnya awal kesyirikan bermula dari pembuatan patung, yang pada akhirnya menjadi sembahan selain Allah. Allah berfirman;

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr [wadd, suwwa', yaghuts, ya'uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh]“. (Nuuh; 21-23)

Disebutkan tentang tafsir ayat ini;

“Nama-nama tersebut adalah nama bagi berhala-berhala yang dahulunya mereka sembah selain Allah. Nama-nama itu adalah nama orang-orang shaleh diantara mereka. Ketika orang-orang itu meninggal, syaithan datang menyampaikan kepada mereka untuk membuat patung dan gambar-gambar orang-orang shaleh tersebut sebagai pemberi motivator bagi mereka dalam melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Namun setelah meninggalnya para generasi tua dan berlalunya waktu yang lama, serta munculnya generasi baru; datanglah syaithan menghembuskan was-was kepada para generasi baru itu, menyatakan bahwa para generasi pendahulu tidaklah membuat patung-patung itu melainkan untuk disembah dan dijadikan sebagai perantara dalam beribadah (berdoa) kepada Allah (tawassul). Demikianlah hikmah diharamkannya membuat patung dan gambar-gambar serta membangun kubah (atau yang semacamnya) di atas kuburan, yaitu karena seiring dengan perputaran waktu, pautng dan gambar-gambar tersebut akan dijadikan sembahan selain Allah oleh orang-orang bodoh di antara manusia.” (At Tafsir al Muyassar, (10 / 270)

Terlebih dengan hendak menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota Hantu, dengan icon tugu Hantu pula, ini merupakan pendidikan yang tidak cerdas dan sangat buruk bagi anak-anak kaum muslimin. Karena jika mereka diajarkan untuk memiliki rasa takut dengan hantu, jin, dan sebangsanya.. maka itu dapat menjerumuskan kedalam syirik. Rasa takut ini, termasuk dalam Khaufus Sirr. Yakni adalah rasa takut yang dialami seorang hamba terhadap selain Allah bahwa makhluk tersebut, dengan kuasa dan kehendaknya, dapat menyebabkan bahaya pada si hamba walaupun tanpa interaksi (Taisiirul ‘Aziz, 1/23)


Boleh jadi kita tidaklah akan demikian, boleh jadi kita ini pemberani dan faham tauhid, dan BIASA AJA dengan kehadiran Tugu Kuntilanak. Tapi apa kita bisa menjamin bahwa seluruh masyarakat bisa bersikap seperti kita? dan diluar hal ini, bisakah kita menjamin bahwa Allah tidak akan murka dengan dibuatnya patung ini, yang mana itu telah dilarang jelas dalam agama kita ini.

Masih ingin membuat tugu?

Sa’id bin Abi al Hasan -rahimahullah- berkata;

“Saya pernah bersama Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma, ketika seorang lelaki mendatanginya dan berkata; Wahai Abu ‘Abbas, sesungguhnya saya ini adalah seorang yang hidup dari membuat shurah (patung). Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata; kalau demikian saya tidaklah mengabarimu kecuali apa yang saya dengarkan dari  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Saya mendengarkan Beliau bersabda; Barangsiapa membuat shurah, maka sesungguhnya Allah akan mengazabnya hingga ia mampu memasukkan ruh ke dalam tubuh makhluk yang dibuatnya itu, sedangkan ia tidak akan pernah sanggup untuk itu. Mendengar hal tersebut, laki-laki itu menjadi galau hingga raut wajahnya menguning. Ibnu ‘Abbas berkata; jika engkau tetap saja ingin membuat shurah, maka buatlah shurah pepohonan atau makhluk lain yang tidak bernyawa.” (HR. Bukhari, (5 / 476)

wallahua'alam

Pontianak,  6 April 2013
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Al-Mustaqbal.Net | Jamaah Tarbiyah | Ansar Mujahideen
Copyright © 2013. Catatan Anak Mushola Di Pontianak - All Rights Reserved
Saya hanya berusaha menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi
dengan kapasitas ilmu yang saya miliki