.

http://ibnumushab.blogspot.com

Latest Article Baca Sampai Habis Dulu, Baru Komen

Busuknya Hizbut Tahrir Terhadap Isu Mursi

Tuesday, August 6, 2013

Saya minta maaf karena kali ini ana sudah tidak bisa lagi diam melihat mulut busuk Syabab Hizbut Tahrir Indonesia. Terpaksa saya ikut berkomentar untuk menyanggah ucapan Titok yang mungkin akalnya sedang bermasalah.
Titok Priastomo (Syabab HTI) menulis:
Jika benar ikhwanul muslimin ingin mendirikan negara Islam (dikit demi dikit), maka kasus Mesir adalah pelajaran penting, bahwa sebuah gerakan politik yang ingin menegakkan pemerintahan Islam yg stabil wajib mencari backup dukungan (thalabun nushrah) dari para pemilik kekuatan (ahlul quwwah) dengan mengkontak dan membina kesadaran mereka, agar mereka bisa mendedikasikan kekuatan yang mereka...

Maka Saya (Junaedi Putra) Katakan:

Jika memang Hizbut Tahrir masih memiliki akal maka pasti mereka akan menghantam assisi dengan hantaman yang paling keras atas segala pembantaiannya.

Jika memang hizbut tahrir masih memiliki akal maka mereka pasti melakukannya, mana mungkin al hafidz seperti mursi tidak selamat dari lisan keji mereka sementara assisi yg jelas2 membunuhi orang2 yg sedang sholat dibiarkan begitu saja?

Jika memang hizbut tahrir masih memiliki akal maka mereka pasti malu berkampanye diatas bangkai kaum muslimin.

Jika memang hizbut tahriri masih memiliki akal tentu mereka tidak akan bersikap pengecut dengan menghapus tulisan2 fitnah dari situs resmi mereka sendiri untuk menghapus barang bukti.

Jika memang hizbut tahrir masih memiliki akal, jika saja mereka memiliki akal tentu akan baik bagi mereka. dan jika mereka benar2 memilikinya semoga mereka menggunakannya.

Berapa jendral yang perlu kalian miliki untuk menegakkan negara Islam yang kalian maksud?
berapa jumlah masa yang perlu kalian miliki untuk menegakkan negara Islam yang kalian maksud?
maka silakan lihat kondisi mesir. mampukah kalian menggerakan masa sebesar itu?
Lihatlah jendral2 yang terpaksa dipenjara karena berpihak kepada mursi, sanggupkah kalian mengumpulkan jendral sebanyak itu?

Wahai pemimpi. tolong sadar dan bangunlah. ini sudah perang. kalian masih aja sibuk dengan angan-angan kosong kalian.

Jangankan kalian yang lemah dan tidak dianggap sedikitpun di mesir, harokah dakwah sebesar IM pun dilawan oleh militer, bagaimana mungkin militer dengan ikhlash memberikan kekuasaannya kepada kalian?

Kalian katakan bahwa tholabun nushroh itu untuk menjaga agar perubahan terkontrol? coba tolong buktikan satu saja militer bodoh yang mau menyerahkan kekuasaannya kepada harokah yang tidak menggenapkan dan tidak pula mengganjilkan seperti kalian. coba berikan contoh satu saja.

Pikiran sempit kalian hanya pandai menuntut, kalian pikir baru jadi presiden mesir lantas sudah cukup kekuatan untuk menegakkan khilafah?

Khilafah itu butuh persiapan bukan sekadar teriakan sumbang kalian. jadi ketika semua persiapan itu dilakukan, pahamilah kondisi orang lain. apakah kalian bisa menjamin jika kalian memegang kekuasaan tidak akan ada kudeta?
Sungguh angan-angan kalian membuatku tidak habis pikir, kok ada orang seperti kalian yang bertindak dengan dasar angan-angan?

Coba gunakan pikiran kalian, bahkan kader IM yang begitu besarpun masih dilawan oleh militer apalagi kalian yang tidak menggenapkan dan tidak pula mengganjilkan?
mana mungkin kekuatan kafir tinggal diam?

Kalian menjanjikan hal yang muluk2 kepada umat islam, namun kalian tidak pernah bisa membuktikan sedikitpun bahwa kalian bisa dipercaya untuk memegang kekuasaan.

Jika kemampuan kalian hanya dalam propaganda dan komentar, maka tolong arahkan saja moncong kalian untuk nmenyarang musuh islam, mana simpati kalian kepada Mursi? apa yang bisa kalian lakukan selain bergembira dengan jatuhnya mursi dengan ucapan kalian "tuh kan saya bilang juga apa"?

Wahai orang yang masih memiliki akal, berhentilah menggunting dalam lipatan. kalian sebut fitnah dan hujatan itu nasihat?
ketika mursi menjadi presiden kalian sebut beliau antek amerika, fir'aun berjenggot, dan semue ucapan buruk kalian.

Ketika Mursi dikudeta dan IM diserang habis2an, kalian malah berkata "tuh kan, udah kami bilang demokrasi itu kufur" lantas ketika Mursi naik, kenapa kalian justru mengatakan "kemenangan pemilu bukan kemenangan dakwah"?

Jika kalian katakan bahwa kemenangan pemilu bukanlah kemenangan dakwah, , lantas mengapa kalian menganggap kudeta adalah kegagalan dakwah?

Tenang sajalah kalian, toh yahudi tidak akan mengusik lisan dan toa kalian itu. santai saja, dan nikmatilah perjuangan IM. jadilah komentator yang baik. atau matilah bersama kedengkian kalian itu.

Titok Priastomo: baik Saya dudukkan masalah terlebih dahulu.

1. Tholabun nusroh bukanlah kewajiban syari'at yang disepakati oleh jumhur ulama. Dan itu sifatnya ijtihadi. Jadi status ini hanya menunjukkan betapa anda bersemangat membela hizbut Tahrir tanpa mau melihat permasalahan sebenarnya.

2. Kalaupun pendapat yg mengatakan bahwa tholabun nusroh itu wajib, maka wajibnya tidak ada bentuk bakunya. Apakah harus dengan menyebarluaskannya atau tidak. Karena fakta membuktikan justru Ikhwanul Muslimin (IM) telah melakukan tholabun nusroh dalam kondisi yang sebenar2nya. Rabu (31/07/13) dalam konteks perkembangan teralhir tentang Mesir, Jendral Abdul Fattah as-Sisi, Menteri Pertahanan dan Komandan Kudeta Militer Mesir, melakukan memberhentikan 20 lebih perwira dari berbagai pangkat, paling tinggi Brigjen dan rendah kapten.

Beberapa aktivsi saling berbagi informasi di jejaring sosial bahwa as-Sisi sekarang melewati kondisi psikologis yang buruk. Ia menjadi gugup dan berurusan dengan berbagai perwira. Dia bersikap keras kepada perwira. Para perwira yang dibebastugaskan oleh Jenderal as-Sisi adalah mereka yang menolak kudeta militer dan melihat akibat dari kudeta militer.

Sekarang jawab pertanyaan saya, berapa banyak petinggi militer yang sudah kalian tholabunnusrohi? Apakah lebih dari jumlah petinggi militer yang harus dipenjara karena membela mursi? Dari sisi ini saja sudah terbukti bahwa klaim kalian hanya omong kosong belaka, dan ketika kalian baru sibuk dalam tataran konsep, maka ikhwan sudah jauh meninggalkan kalian dalam realita.

3. Fakta menunjukkan bahwa penegakkan syari'ah dan khilafah bagi Ikhwan bukanlah sesuatu yang hanya digembargemborkan apalagi jadi isu utama, melainkan menjadi hal yang langsung dipraktekkan dengan mempersiapkan seluruh persiapan dan kekuatan menuju kesana. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=449666741797691&set=a.311743665590000.65942.311734962257537&type=1

Jadi, membandingkan HT dengan IM dalam penegakkan khilafah bagi ana sangat tidak relevan, bagaimana mungkin bisa dibandingkan teriakan dengan penegakkan? Lebih dari itu menyamakan HT dengan IM dalam penegakkan khilafah

merupakan PENGHINAAN. Karena IM bukanlah gerakan yang suka menggunting dalam lipatan, apalagi berkampanye diatas gelimangan jasad para syuhada seperti yang dilakukan oleh HT.

4. Dan ini yang perlu Saya ingatkan bahwa proses penegakkan daulah Islam bukanlah masalah qoth'i dalam syari'ah. karena definisi negara Islampun masih diperselisihkan oleh para ulama.

Hanya orang berhati sempitlah yang yang hanya membela pendapat hizbnya (organisasi/partainya) lalu menegasikan pendapat para ulama yang lain. dan oleh sebab itu bagi sebagian orang mesir memang masih negara kafir, dan perlu didirikan negara islam.

Namun bagi mayoritas kaum muslimin Mesir adalah negara Islam sejak dulu hanya saja hukum syari'ah perlu dimasukkan dalam setiap undang2 agar al qur'an dan hadits benar2 menjadi dasar bagi pergerakan negara tersebut. Hal ini penting dipahami karena jika hanya karena hukum syari'ah belum sempurna diterapkan lantas negara tersebut dihukumi darul kufr, maka bagaimana dengan arab saudi? Tidak mungkin orang yang berakal mengatakan bahwa makkah dan madinah itu merupakan bagian dari darul kufr.

Dan memaksakan pendapat hizbnya sendiri untuk menegasikan pendapat mayoritas kaum muslimin adalah tindakan yang terlalu gegabah dan menunjukkan ashobiyah yang terlalu akut.

5. Sekarang begini, jika sekalipun Mesir kalian anggap negara kafir yang dengannya lalu negara islam harus ditegakkan, maka proses penegakkannya pun bukanlah perkara yg qoth'i dalam islam. Apakah harus begini apakah harus begitu, tidak ada nash qoth'i yang mengatur hal itu. Bahkan tidak ada satupun kaum muslimin yang bersepakat bahwa dalam urusan cara perang dan bentuk pemerintahan termasuk sunnah rasul yang wajib diikuti.

Bentuk pemerintahan boleh berganti yang harus dijalankan adalah syari'at islam berjalan dengan baik. Peperangan boleh dengan cara apapun selama dibenarkan oleh syari'at dan memerangi orang yang memerangi islam adalah wajib hukumnya.

Maka memaksakan opini minoritas hizb kepada mayoritas kaum muslimin adalah kebodohan yang nyata.

6. Terakhir. Saya ingin mengetuk hati kalian semua wahai syabab (pemuda/aktivis) HT dimanapun kalian berada. as-sisi telah membunuhi begitu banyak kaum muslimin yang sedang melakukan shalat, mana suara kalian? kenapa hampir tidak terdengar seperti hujatan kalian kepada al hafidz Mursi? Apakah kalian anggap sang penghafal al qur'an itu lebih hina dibandingkan orang yang telah membantai kaum muslimin yang sedang sholat? Lantas kenapa kalian malah lebih suka menghujat dan memfitnah al hafidz Mursi?

Dimana akal kalian? Bahkan kalian dengan bangganya berkampanya memajukan amir (ketua/tokoh/qiyadah) kalian dan memuji2nya diatas gelimpangan jasad para syuhada tanpa sedikitpun simpati? Dimana hati kalian? Berhentilah menipu umat Islam dengan retorika busuk kalian. Sesungguhnya umat ini tidak terlalu bodoh untuk membedakan mana MUJAHID dan mana MUNAFIQ.

Ingatlah bahwa di akhirat kelak seluruh ucapan dan perbuatan kalian akan dihisab, tidakkah kalian meyakini itu sebagaimana kaum muslimin meyakininya?

Al-Fahmu Yang Didambakan

Thursday, July 18, 2013


Al-Fahmu dalam diri setiap ikhwah adalah suatu keniscayaan, sebab ia dapat membantu diterimanya amal,  dan memelihara dirinya dari ketergelinciran.

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Barangsiapa yang beramal tanpa di dasari ilmu, maka mudhoratnya  lebih banyak daripada maslahatnya”. [Sirah wa manaqibu Umar bin Abdul Aziz, Ibnu Al-Jauzi; 250]

Orang yang ikhlas beramal tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar dan tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya mungkin dapat tersesat jauh.  Rasulullah saw bersabda:

“Satu orang faqih itu lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli Ibadah” [At-Tirmidzi: 5/46. Nomor:2641]

Umar bin Al-Khattab juga berkata: “Kematian seribu ahli ibadah yang selalu shalat malam dan berpuasa di waktu siang itu lebih ringan daripada kematian orang cerdas yang mengetahui hal-hal yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah”. [Jami' bayanil ilmi wal fadhlihi; Ibnu Abdul Barr: 1/26]

Allah SWT melebihkan satu nabi yang lain karana kedalaman pemahaman yang dianugrahkan kepadanya. Allah SWT berfirman: “Maka Kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat), dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu”. (Al-Anbiya:79)

Ibnu Abbas dimuliakan meski masih muda usianya, melebihi kebanyakan tokoh-tokoh senior lainnya, karena pemahaman yang baik yang dikaruniakan Allah kepadanya. Sehingga, ia berhak menjadi anggota Majelis Syura Amirul Mukminin Umar bin Khattab saat itu.

Oleh karena itu, wahai saudaraku, berusahalah memiliki pemahaman yang benar dan cermat. pemahaman yang mencapai dasar urusan dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkan. Juga pemahaman yang jernih, murni, integral dan menyeluruh. 

Sebab, barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah pemahaman yang benar, maka ia telah mendapatkan karunia yang banyak, keutamaan yang besar terhindar dari ketergelinciran dan terjaga dari penyimpangan.

Ibnu Al-Qayyim berkata: “Benarnya pemahaman dan baiknya niat merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan, hamba tidak dikarunia nikmat yang lebih utama setelah nikmat Islam melebihi kedua nikmat tersebut. Dua nikmat itu merupakan dua kaki dan tulang punggung Islam. Dengan keduanya, hamba terhindar dari jalan-jalan orang-orang yang dimurkai (yaitu orang-orang yang buruk niatnya), dan dari orang-orang yang sesat (yaitu orang-orang yang buruk pemahamannya), serta akan menjadi orang-orang yang diberi nikmat (yaitu orang-orang yang baik pemahaman dan tujuannya). Merekalah orang-orang yang terbimbing di jalan yang lurus, di mana kita semua diperintahkan memohon kepada Allah dalam setiap shalat agar dibimbing ke jalan mereka. Pemahaman merupakan cahaya yang disemayamkan oleh Allah dalam hati hamba-Nya. Dengannya , ia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk; yang haq dan yang batil; petunjuk dan kesesatan, penyimpangan dan kelurusan..” [A'alamul Muwaqqi'in; Ibnu Al-Qayyim: 1/187]

maka berdoa'alah seperti dalam Al Qur'an Surat Asy-Syu'ara ayat 83, dan ini termasuk doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim a.s.

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Artinya:
(Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh." 

Jangan Samakan Luthfi Dengan Mereka!

Wednesday, July 17, 2013


Coba lihat gambar diatasini, apa pendapat kalian? gambar tersebut diupload oleh teman2 dari PKS demi membela 'ulama' mereka. Jujur saja, ana merasa tersinggung, bagaimana mungkin ulama-ulama yang sangat ana banggakan, disamakan dengan seorang yang hina? hanya karena ia memiliki persamaan yakni 'dizhalimi' oleh penguasa?


Coba dengarkan dan perhatikan ulama-ulama kalian ini, adakah sama?

Hasan Al Banna dalam Majmuatu Rasail Kitab Risalah Muktamar Khamis saat menjelaskan posisi IM dengan Qanun Wadh'iyyah:
"Al Quran melarang zina, khamar, dan judi, namun pemerintah kita melegalkan zina, khamr, dan judi. Maka hukum manakah yang akan engkau pilih? Apakah engkau memilih ridha manusia dan meninggalkan hukum Allah atau engkau memilih ridha Allah dan menolak hukum buatan manusia?"

Sayyid Quthb dalam Ma'alim fith Thariq Bab Jihad Fii Sabilillah saat menjelaskan tafsir QS At Tawbah ayat 31:
Maka jelaslah bahwa Rasulullah sendiri yang menafsirkan ayat tersebut. Dengan itu kita bisa memahami bahwa taat kepada hukum selain hukum islam, adalah satu bentuk peribadahan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari millah (murtad).

Syaikh Mustafa Masyhur dalam Kutaib Thariqah Ilal Hurriyah:
Kami tegaskan bahwa IM tidak akan pernah menggunakan cara pandang picik partai politik yang sekedar mencari cara untuk mengumpulkan banyak massa untuk meraih suara.

Dr. Abdul Aziz Rantisi:
Saya pilih meninggal dunia dihantam Apache!

Syaikhul Mujahid Abdullah Azzam:
Bumi dan bulan , serta semua planet dan bintang memiliki poros dan garis edar yang telah ditetapkan oleh Allahu ta'ala dimana saat mereka keluar dari poros tersebut maka binasalah mereka. Begitupun manusia, garis edarnya adalah hukum Allah, saat manusia keluar dari hukum Allah maka binasalah ia sebagaimana binasanya bumi bila keluar dari garis edarnya.

Al Ustadz Sayyid Hawa dalam Kitab Al Islam saat menjelaskan pembatal keislaman:
Di antara pembatal keislaman adalah menggunakan sistem pemerintahan selain Islam seperti demokrasi....

sedangkan Luthfi Hasan kalian itu berkata:
Saya akan tunduk pada ketentuan hukum (thaghut) yang berlaku.

 ---------
Gunakanlah bashirah saat menilai sesuatu. Jangan jadi orang bodoh! menyamakan Luthfi Hasan dengan orang2 hebat lainnya. Para ulama mujahid yang ana sebutkan diatas, ditangkap dan dibunuh karena ingin menegakkan islam, menegakkan tauhid, bukan karena korupsi.

Segera, sebelum terlambat tinggalkan kubangan demokrasi dan tegaklah menantang seperti Syaikh Hasan Al Banna dan Syaikh Sayyid Qutb, walaupun nanti orang akan menyebut kita ekstrimis atau teroris, sungguh jauh lebih baik daripada duduk di kursi parlemen sambil membisu saat ratusan aktivis ditembaki oleh densus keparat hanya karena DIDUGA, DIKIRA2, dan DIFITNAH sebagai teroris.

Istri & Anakmu Ada Yang Menjadi Musuhmu!

Saturday, July 13, 2013

 
 
 
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٲجِكُمۡ وَأَوۡلَـٰدِڪُمۡ عَدُوًّ۬ا لَّڪُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡ‌ۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi 
Maha Penyayang.”  (Surah At-Taghabun: 14)


SEBAB PENURUNAN AYAT

Menurut satu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir daripada ‘Ata Ibn Yasar, dia berkata: Surah At-Taghabun telah diturunkan keseluruhannya di Makkah kecuali ayat 14 dan ayat-ayat berikutnya diturunkan di Madinah. Ayat 14 dalam surah ini diturunkan berkenaan kejadian yang terjadi kepada ‘Auf Ibn Malik al-’Ashja’i. Beliau mempunyai seorang isteri dan seorang anak. Ketika ‘Auf hendak pergi berperang di jalan Allah, isteri dan anaknya menangis dan menahannya supaya tidak pergi sambil mereka berkata, “Kepada siapa kami akan kamu tinggalkan?” ‘Auf berasa simpati dengan mereka dan tidak jadi pergi. Maka turunlah ayat 14 dalam surah ini menceritakan peristiwa berkenaan.

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Imam At-Tirmizi dan Imam al-Hakim daripada Ibnu Abbas, dia berkata: Ayat yang berbunyi: “Sesungguhnya antara isteri-isteri dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh bagimu, oleh karena itu berhati-hatilah kamu”,  diturunkan berkenaan dengan satu kaum dari penduduk Makkah yang telah memeluk agama Islam, tetapi isteri-isteri dan anak-anak mereka tidak mau berhijrah ke Madinah tempat Rasulullah SAW berada. Apabila sampai di Madinah dan melihat masyarakat yang telah faham Islam, maka timbullah keinginan untuk menghukum isteri-isteri dan anak-anak mereka tetapi Allah menurunkan ayat yang berbunyi: “dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi mereka serta mengampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Meskipun dua riwayat di atas  berlainan antara satu sama lain, ia memberikan suatu gambaran latar belakang ayat yang diturunkan. Kedua-duanya menyentuh masalah ayah atau suami yang isteri dan anaknya menghalanginya atau melambatkannya untuk keluar di jalan Allah.  Kedua-dua riwayat itu juga memperlihatkan si ayah atau suami sebagai orang yang paling bertanggungjawab dalam rumah tangga memiliki kafa’ah dan usaha yang lebih daripada isteri dan anak-anakdari sudut ilmu, amal, iltizam, jihad dan lain-lain.

MEMILIH ANTARA  KELUARGA DAN PANGGILAN ALLAH
Perbedaan dari segi kefahaman dan iltizam ini kadangkala menampakkan hakikatnya dalam keadaan-keadaaan yang genting, seperti pergi untuk berperang atau berhijrah di jalan Allah karana perbuatan-perbuatan ini mungkin membawa kepada perpisahan keluarga. Keadaan ini memang menimbulkan masalah bagi seorang suami atau ayah dan di sinilah letaknya ujian-ujian Allah. Dalam keadaan ini, ia berada di tengah-tengah dua pilihan, antara memilih keluarga pada satu sisi, namun kefahaman dan keiltizamannya dengan panggilan Allah membuatnya ingin pergi. Apabila bersama keluarga lebih kuat menarik hatinya, maka isteri dan anak-anaknya tentu akan menahannya dan menjadikannya ragu untuk bergerak keluar rumah bahkan mungkin membatalkan niatnya sama sekali. Tetapi apabila  kefahaman dan keiltizaman seorang ayah atau suami lebih kuat, maka ia dapat melewati halangan-halangan itu seperti masa Nabi Ibrahim ketika diperintah menyembelih anaknya Ismail, atau seorang sahabat yang baru saja berumah tangga tetapi apabila berkumandang pangilan jihad ia pun meninggalkan isterinya dan terus berjihad sehingga syahid. Begitu juga jika kita lihat keadaan Imam Hasan Al-Banna yang tidak menghiraukan rayuan isterinya untuk menemaninya menjaga anaknya yang sedang demam. Beliau tetap meninggalkan rumah untuk menghadiri program penting dalam dakwahnya .

KEFAHAMAN DAN KEILTIZAMAN PERLU SEIMBANG
Jika sang suami - karena kepahamannya - berniat untuk menghukum istri dan anakanya karena  mereka menjadi penyebab dirinya bergerak lambat menyahut seruan Allah. Mungkin si ayah/suami menyangka isteri dan anak-anaknya telah sampai ke tahap kefahaman dan keiltizaman seperti dirinya yang bersedia menerima hukuman di atas kelambatan beramal. Ini adalah prasangka yang salah. Dalam hal ini  Allah melarang seorang suami menghukum isteri dan anak-anaknya karena menghalanginya menyahut panggilan Allah dengan firman-Nya :

“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah SWT memberikan tuntunan kepada ayah atau suami agar mengambil sikap pertengahan dan sederhana antara ‘tafrit’ dan ‘ifrat’ ketika terjadi seperti ini. Mengikuti ajakan keluarga dan mengabaikan seruan Allah adalah tafrit (tidak perduli). Karena itu Allah SWT memperingatkan kita dengan kata-kata, “berhati-hatilah kamu” atau “waspadalah kamu” dari ajakan keluarga. Tetapi ketika berniat untuk memukul atau menghukum keluarga, itupula adalah sifat ifrat (melampaui batas). Dalam hal ini Allah SWT menyuruh kita memaafkan mereka. Inilah dua sikap yang benar yang patut diambil oleh seorang ayah atau suami dalam menghadapi keluarga apabila terjadi seperti ini.

HAKIKAT MUSUH

Dalam ayat di atas Allah SWT menyatakan bahwa, “ada antara isteri-isterimu dan anak-anakmu yang menjadi musuh bagimu”. Menurut Ibnu Katsir pengertian musuh di sini adalah “sesuatu yang melalaikan daripada mengerjakan amal saleh” seperti firman Allah dalam surah al-Munafiqun ayat 9 yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah harta-harta dan anak-anakmu melalaikan kamu daripada memperingati Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Daripada pendapat Ibnu Katsir ini dapatlah diambil pengertian umum bahwa apa saja yang  melalaikan kita dari mengingat Allah, beramal saleh dan mentaati perintah Allah adalah musuh kita.
Dalam hal ini musuh kita yang paling utama adalah syaitan karena ia sentiasa menyuruh kita untuk mengingkari Allah SWT dan perintah-Nya. Usaha dan pergerakan syaitan dalam menjerumuskan diri  dan keimanan kita kadangkala dengan membisikkan ide dan pemikiran yang berlawanan dengan kehendak Allah. Tetapi dalam banyak hal, syaitan menggoda manusia melalui berbagai wasilah seperti isteri, anak-anak, harta, kedudukan, pangkat dan lain-lain.

Apabila kita tidak berhati-hati dan berwaspada, wasilah-wasilah ini yang seharusnya membantu ke arah mencapai keridhaan Allah SWT, telah ditunggangi dan diperalat oleh syaitan. Ingatlah firman Allah ketika Dia mengusir Iblis dari syurga dan memberikan kesempatan kepadanya (iblis) untuk menyesatkan manusia dengan segala wasilah yang ada padanya. wallahu'alam..

Haruskah Membela Mursi?

Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tanggal 3 Juli 2013, Presiden Mursi, pemimpin Mesir dikudeta oleh militer, di bawah pimpinan Jendral Abdul Fattah As Sissi. Masya Allah, ini adalah musibah dan bencana yang sangat menyedihkan.

Presiden Mursi baru berupaya memperbaiki kehidupan Mesir dengan langkah-langkahnya. Tetapi belum juga lama beliau memimpin, sebuah GELOMBANG REKAYASA POLITIK mendera dengan sangat kencangnya. Gelombang ini memanfaatkan beberapa lini: media massa, gerakan demo mahasiswa + aktivis, tekanan militer, tekanan internasional, tekanan ekonomi riil.

Rakyat Muslim, termasuk di Mesir, banyak yang tidak mengetahui dengan kenyataan-kenyataan ini. Maka itu Saudaraku, perbaikilah ilmu, wawasan, dan kesadaranmu! Jangan melulu ikut arus media terus. Media bisa menipu, tapi kesadaran diri jauh lebih kuat.

Dalam masa demikian, marilah kita membantu Presiden Mursi, dengan segala kekuatan yang kita mampu. Caranya…

  •  Akuilah, bahwa beliau masih Presiden Mesir yang sah!
  •  Bangunlah opini, bahwa beliau adalah presiden yang sah, sedangkan kudeta militer itu tidak sah!
  • Lakukan penolakan secara politik terhadap siapa saja yang buru-buru mengakui kepemimpinan pemimpin kudeta militer; dengan asumsi, sikap keterburuan dia itu menunjukkan, bahwa dia sangat ingin agar Mursi segera tumbang, sehingga tidak akan membahayakan kursi kerajaannya. (Sebuah Dinasti di Arab yang sekian lama banyak didoakan Umat dan dibantu dengan segala daya, kok malah suka melihat saudaranya teraniaya? Aneh. Inilah tanda-tanda kekuasaan politik Dinasti itu semakin senja).
  • Kalau mampu menolong secara dana, fasilitas, perlindungan, logistik, tenaga, pikiran, dan apapun, silakan saja. Dukungan itu tak sia-sia di sisi Allah Azza Wa Jalla.
  • Doakan Presiden Mursi dan saudara-saudara Ikhwanul Muslimin, agar mereka mendapatkan selamat. ‘afiyat, dan dijauhkan dari bala, bencana, dan kezhaliman. Amin Allahumma amin.

Kita tak usah memandang Presiden Mursi dari Ikhwanul Muslimin atau tidak; toh, mereka adalah saudara kita juga; sama-sama berjuang ingin menegakkan Islam, sesuai kemampuan dan caranya. Mereka itu saudara kita, sama-sama Ahlus Sunnah. Mari menolongnya sekuat kemampuan.

Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sejak lama selalu empati kepada perjuangan tokoh-tokoh Al Ikhwan. Beliau pernah memfatwakan agar kaum Muslimin menolong Ikhwanul Muslimin yang dibantai Hafezh Assad di Suriah.

Satu hal yang membuatku sangat terkesan dari sosok Presiden Mursi. Tentu, selain beliau Hafal Al Qur’an. Saat dalam pertemuan internasional di Teheran Iran, beliau membuka pidatonya dengan memuji para Shahabat Nabi Shallallah ‘Alaihi Wassallam. Ini adalah bentuk ejekan bagi Syiah Rafidhah yang hidupnya selalu memakan bangkai dan minum nanah (karena terus-menerus mencaci maki Shahabat dan menista mereka).

Semoga Presiden Mursi dapat melakukan seperti yang pernah diperbuat Khalifah Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu, beliau tetap memakai jubah kekuasaannya, meskipun rumahnya telah dikepung para pemberontak. 

Dan besar harapan saya, Presiden Mursi mau menegakkan syariat islam secara sempurna di bumi mesir. Bukan sistem demokrasi kufur dan campuraduk seperti saat ini. Semoga para salafi jihadi di mesir mengulurkan tangannya untuk membela kehormatan seorang muslim ini. Insyallah.

Allahummanshur li akhina Muhammad Mursi, farzuqhu nashran mubinan wa makhrajan min kulli musykilati wal fitnah. Wa anzhir wa ihzim kullu man fasada amrahu wa jarama mulkahu wa man ‘aanahum. Innaka antas sami’ud du’a ya Dzal Jalali wal Ikram. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi wa sallam. Amin Allahumma amin.

Konsekuensi Dari Sebuah Partai Yang Membawa Nama Dakwah

Sunday, May 19, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini PKS sedang mengalami turbulensi politik yang amat sangat kuat. Ibarat sebuah kapal layar, ia sedang berada di tengah pusaran air, menghadang ombak yang tinggi, serta dihajar badai dari segala arah.

Faktanya, setelah Luthfi Hasan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, begitu juga sohibnya A. Fathonah, pejabat-pejabat PKS lainnya juga diperiksa sebagai saksi. Anis Matta dan Pak Hilmi Aminuddin harus memenuhi panggilan KPK; bergitu juga Saldi Matta, adik Anis Matta. Secara moral, pemanggilan Ketua Majelis Syura PKS oleh KPK serasa seperti “bom atom” yang dentumannya sangat menggelegar.

Kami disini tidak mau masuk terlalu ke dalam ke pusaran konflik KPK Vs PKS. Tetapi kami ingin melihat kenyataan ini dalam perspektif kepentingan politik Ummat Islam. Sebagaimana pada asalnya kami tidak memiliki “kebencian laten” kepada PKS, maka saat ini kami tetap berpegang kepada kepentingan Ummat tersebut; menggali hikmah di balik setiap peristiwa.

Mari kita lihat detail masalahnya lebih fokus…

*** Sebenarnya, sumber banyaknya kritik, kecaman, hujatan kepada PKS ialah konsep dasar politik partai ini sendiri. PKS sejak awal memposisikan dirinya sebagai: Partai Dakwah, partai Islam, partai para ustadz. Positioning seperti ini membuat PKS banyak diawasi oleh kaum Muslimin, karena kita berkepentingan terhadap nama Islam, dakwah, dan ustadz.

Andaikan sejak awal PKS tidak membatasi dirinya dengan citraan religius yang dibuatnya sendiri itu, mungkin sikap kritis Ummat Islam terhadapnya tidak terlalu gencar atau garang. Hal ini bisa dianalogikan seperti sebuah tim sepakbola sekelas PERSIJA, tetapi koar-koar bahwa mereka sekelas BAYERN MUNCHEN; jelas tim itu akan terus diawasi oleh para penggemar bola dari Maroko sampai Merauke. (PKS membawa2 nama islam yg begitu besar dan mulia, tentu saja diawasi oleh banyak orang)

*** Kinerja politik PKS bisa dibagi menjadi dua periode; periode sebelum Pemilu 2004 dan periode setelah Pemilu 2004. Tahun 2004 seperti menjadi Yaumul Furqan bagi PKS. Sebelum tahun 2004 politik PKS bersifat idealis, keteladanan, pembelaan besar atas kepentingan masyarakat, dan politik bersih (bebas korupsi). Tetapi setelah tahun 2004, sampai hari ini, kinerja politik mereka semakin merosot; hingga finalnya Presiden PKS ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

*** Patut dipahami bahwa politik PKS tidak bisa dipisahkan dari politik SBY. Lho, kok bisa begitu ya? Karena tahun 2004 itu PKS meresmikan persekutuan politiknya dengan SBY (Partai Demokrat). PKS mendapat sekian kursi kementrian, sedangkan SBY (Demokrat) mendapatkan fasilitas pembelaan politik dan dukungan dari PKS.

Sampai hari ini, bisa dikatakan politik PKS tidak bisa melepaskan diri dari politik SBY. Bahkan kasus-kasus hukum yang menimpa PKS saat ini (terkait KPK) ada yang membacanya sebagai plot politik SBY. Tahun 2009 PKS ingin menarik dukungan kepada SBY, bahkan sudah sempat memberikan sejumlah serangan-serangan politik ke SBY menjelang Pemilu 2009; tetapi kemudian ia rujuk lagi, lalu mendukung deklarasi Capres pasangan SBY-Bodiono di Sabuga ITB. Menjelang Pemilu 2014 nanti, PKS kemungkinan akan kembali menyerang SBY (Demokrat); tetapi kemudian akan bermesraan dengan politik SBY lagi. Antara PKS dan politik SBY layaknya padanan: “benci tapi rindu”, “muak tapi butuh”, “emoh tapi pingin lagi”.

*** Jika dikalkulasi, nilai “perdagangan politik” antara PKS dan SBY, yang lebih beruntung adalah SBY. Kemapanan posisi SBY sebagai presiden sejak tahun 2004, dan berhasilnya dia menjadi presiden kembali untuk periode 2009-20014, tidak lepas dari jasa PKS. Tanpa PKS, SBY sudah babak-belur dimakan oleh Golkar dan PDIP sejak awal kepemimpinannya. Di sisi lain, SBY juga kesal ke PKS, karena partai ini susah diatur. PKS berbeda dengan PAN dan PKB yang mampu memberikan “penghambaan politik” secara tulus ikhlas, lahir-batin, dunia akhirat untuk SBY.

Ibaratnya, politisi-politisi PAN dan PKB sudah biasa menampilkan loyalitas buta, tanpa reserve, kepada SBY dan Demokrat. Sementara politisi PKS dianggap masih sering mengganggu kebijakan politik SBY, seperti dalam konteks Pansus Bank Century. Bisa dikatakan, koalisi dengan SBY sangatlah pahit, dan PKS tahu makna semua itu.

*** Logika PKS bergabung dengan SBY sangat sederhana; dengan masuk kabinet, menjadi bagian dari koalisi, mereka akan dapat posisi kementrian. Sedangkan kementrian identik dengan proyek-proyek yang melibatkan anggaran negara. Di titik ini PKS butuh posisi birokrasi, sebagaimana partai-partai lain juga ngiler. Tetapi motivasi “memperkaya diri” ini selain berpotensi merugikan urusan rakyat, juga bisa menjerat PKS dalam pusaran kasus-kasus korupsi; seperti kenyataan hari ini. Apalagi faktanya, PKS tidak pernah diberikan posisi “enak” oleh SBY Cs. Paling tinggi, PKS diberi jabatan kementrian pertanian dan kominfo.

*** Dalam tubuh PKS ada dua pemikiran yang terus bergolak: idealisme dan pragmatisme. Sebagian orang mengistilahkan “Kubu Keadilan” dan “Kubu Sejahtera”. Kondisi disparitas ini tidak lepas dari perubahan pemikiran (ideologi) secara drastis yang dialami Anis Matta. Konsep asli PKS sangat kental bernuansa idealisme, dengan slogan: partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Tetapi setelah Anis Matta 'berubah', PKS mengalami perubahan pemikiran secara ekstrem, terutama setelah dia menjadi anggota DPR RI dan mengikuti kursus Lemhanas; tumbuh subur pemikiran-pemikiran politik pragmatis di tubuh PKS, hingga pragmatisme itu mampu menguasai seluruh lini partai tersebut.

*** Posisi Anis Matta di PKS serupa seperti posisi BJ. Habibie dalam pemerintahan di masa itu. Kedua sosok sama-sama pintar, punya intelijensi tinggi, menjadi bintang andalan di tempat masing-masing; tetapi egoisme dirinya juga besar. Kejeniusan pemikiran kurang diikuti kemampuan “sharing of power”. Habibie pernah merajalela dalam pemerintahan, sebagaimana Anis merajelela di PKS. PKS jelas butuh kecerdasan Anis, tetapi Anis juga bisa “memakan” PKS. Simakalama.

*** Politik PKS masa kini (terutama sejak tahun 2009) tak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat sosok Anis Matta. Bisa saja orang berasumsi, “PKS adalah Anis Matta, dan Anis Matta adalah PKS.” Di atas kertas Pak Hilmi Aminuddin memang Ketua Majelis Syura, tetapi keputusan politiknya tak lepas dari pertimbangan pemikiran Anis Matta. Lalu inti dari pemikiran politik Anis Matta ini adalah “politik oplosan”; yaitu semacam ritme permainan politik yang memainkan dua kartu utama, “wajah Syariat” dan “ambisi kekuasaan”.

Di mata para kader, simpatisan, dan lawan-lawan politiknya, PKS membangun “wajah Syariat”; tetapi saat berbicara kekuasaan, jabatan publik, posisi birokrasi, dan lainnya, elit-elit politik PKS tidak kalah ganasnya dibandingkan elit-elit Demokrat, PDIP, Golkar. Berkali-kali elit PKS mengancam SBY terkait isu reshuffle kabinet, hingga pencapresan. Inilah politik oplosan atau “berwajah ganda”.

*** Politik oplosan model Anis Matta (dan didukung elit-elit PKS lainnya) ini menjadi simalakama bagi PKS. Di mata Ummat Islam, PKS dianggap tidak tulus mengembangkan politik Syariat; karena sangat kelihatan terlalu ambisi jabatan. Di mata para politisi, PKS dianggap sangat menjengkelkan, karena mereka berambisi kekuasaan, tetapi memakai dalil-dalil agama. Di mata publik secara umum, wajah PKS sangat membingungkan; ada kalanya tampak Islami dan santri, tetapi di lain kesempatan sangat haus kekuasaan dan kurang punya rasa malu (fatsoen politik). Jika kemudian ada yang berusaha mengeliminasi PKS (melalui KPK misalnya), hal itu tak lepas dari alasan kejengkelan tersebut.

*** Seburuk apapun sosok dan perilaku A. Fathonah, maka dia mewakili dirinya sendiri. Dia bukan mewakili partai, gerakan dakwah, komunitas kaum Muslimin. Dia hanya mewakili dirinya sendiri. Hal ini berbeda dengan PKS yang sejak lama mengambil banyak benefits dengan mengatasnamakan partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Maka menyikapi dua obyek ini juga berbeda perlakuannya.

*** Sejak lama sudah sangat banyak suara-suara kaum Muslimin yang mengkritik PKS, memberikan penilaian, nasehat, masukan, dan lain-lain. Tetapi semua itu ditepiskan begitu saja. PKS tetap pada patron politiknya yang menampilkan “wajah ganda”. Tapi ada satu hal yang paling berbahaya yang sering dilakukan jajaran pengurus PKS dan para pendukungnya, yaitu kebiasaan mereka menyerang balik orang-orang yang memberi kritik, nasehat, masukan dengan berbagai tuduhan buruk. Misalnya, tuduhan sebagai barisan sakit hati, suka iri/dengki, pemecah-belah, tidak punya karya nyata selain mengkritik, tukang fitnah, tukang ghibah, antek Zionis, antek Amerika, tidak mau tabayyun, dan lain-lain. Lha, mereka diberi masukan baik kok, malah menuduh begitu? Sayang sekali.

*** Membalikkan kritik dengan tuduhan balik sebenarnya termasuk salah satu teknik penggalangan massa. Hal ini sudah dikenal dan sering dipakai. Mereka tidak mau mencerna kritik berdasarkan ilmu, akal sehat, dan Syariat; tetapi langsung membalikkan begitu saja kritik-kritik itu dengan serbuan tuduhan-tuduhan. Padahal di antara para pengeritik itu banyak yang punya niat tulus; tidak bermaksud menjatuhkan, tapi menjaga kemurnian Syariat.

*** Sampai titik tertentu, tidak ada yang sanggup untuk meluruskan PKS. Semua angkat tangan, semua geleng-geleng kepala, atau mengelus dada. PKS sudah tak bisa dinasehati, seperti layaknya orang yang tak lagi membutuhkan Surat Al ‘Ashr. Harapan terakhirnya ialah keadilan Allah Ta’ala yang tak akan membiarkan kebathilan merajalela.

***  Segala turbulensi yang dihadapi PKS saat ini adalah buah dari cara politik yang mereka kembangkan sendiri. Terutama kebiasaan melontarkan TUDUHAN BURUK kepada kaum Muslimin yang selama ini peduli. Orang-orang peduli itu telah memberikan nasehat, kritikan, masukan, tetapi semua itu dibalikkan dalam bentuk tuduhan-tuduhan buruk dan kata-kata cacian. Hal ini sangat menyakitkan bagi hati-hati yang tulus itu, dan membuat Allah Ta’ala murka.  Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan, bahwa orang sombong tidak masuk surga. Ketika ditanya ciri orang sombong, beliau mengatakan: Batharal haqqa wa ghamtun naasi (menolak kebenaran dan merendahkan manusia).

*** Kini PKS sedang menggali kekuatan dan daya untuk menerjuni kancah “perang terbuka” melawan KPK. Ibaratnya, PKS seperti banteng terluka. Betapa tidak, guru spiritual mereka, Ust. Hilmi Aminuddin dipaksa datang ke KPK untuk diperiksa (sebagai saksi). Jika PKS tidak melawan, nama baik elit-elit pengurusnya akan hancur di mata para kader pendukung. Tetapi kalau melawan, mereka akan menghadapi “pengadilan publik” yang selama ini telah memposisikan KPK bak Malaikat yang suci dari dosa dan kepentingan. Simalakama lagi.

Akhirnya kini harus kami katakan, bahwa:
“Sejak awal kami tidak memiliki kebencian kepada PKS (dulu PK). Kami hargai eksistensi partai ini dalam kerangka perjuangan politik keummatan di Indonesia. Tetapi seiring waktu, PKS tidak menepati komitmennya sebagai partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Maka kami pun menyampaikan kritik, nasehat, masukan untuk perbaikan. Tetapi sayang, alih-alih kalangan PKS menghargai masukan semacam ini; mereka –melalui kader-kadernya- justru bersikap memusuhi masukan-masukan semacam ini. Mereka beranggapan, setiap masukan atau kritik adalah upaya fitnah, demarketing, black campaign, atau konspirasi. Masya Allah, niat baik berbalas tuduhan buruk. Padahal dalam konteks politik terbuka di zaman modern, jangankan kritik atau nasehat; kecaman-kecaman keras pun termasuk ekspresi politik yang dihargai. Jujur kami sangat sedih.”

Untuk selanjutnya, kami hanya bisa melihat keadaan ke depan, tanpa bisa berharap banyak. Jika kami mengharapkan PKS hancur, tentu itu tak sesuai dengan niat awal kami. Sebaliknya, jika kami menjamin PKS akan baik-baik saja, maka kami sama sekali tidak memiliki kuasa atas Sunnatullah dan Hikmatullah yang berlaku dalam kehidupan ini. Kata-kata yang bisa kami ucapkan: “Selamat berjuang kawan-kawan PKS, semoga diterima di sisi Tuhan sesuai amal-amalmu!”

PKS telah memilih, mereka pun akan menerima. Besar harapan kami, apapun yang nanti kan terjadi, Allah Ta’ala senantiasa menolong kaum Muslimin, memudahkan urusannya, serta menyampaikan harapan-harapannya. Amin Allahumma amin.

[muhammad waksito]

Perang Tabuk: Dulu & Sekarang

Saturday, May 11, 2013

Pernah membaca tentang kisah perang tabuk saudaraku? Sebuah peperangan yang tentaranya diberi nama jaisyul ‘usrah atau pasukan yang dibentuk di saat kesusahan. Perang Tabuk yang terjadi pada  tahun 8 hijriyyah itu terjadi ketika keadaan cuaca yang sangat panas dan masyarakat ketika itu sedang menunggu masa panen yang tidak lama lagi. Sahabat Rasulullah, Umar bin al-Khattab menyerahkan setengah dari hartanya. Utsman bahkan menyerahkan 300 unta dan 1000 dinar miliknya. Dan Abu Bakar menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya.

Ikhwati fillah,
bayangkanlah bagaimana para sahabat di bawah terik panas matahari memenuhi panggilan Rasulullah di tengah kondisi yang melelahkan. Bagaimana rasanya ketika mereka rela untuk mengabaikan musim panen buah kurma yang akan segera di tiba. Bagaimana ketika mereka membuang jauh-jauh keinginan untuk tinggal bersama isteri di rumah. Bagaimana mereka menahan rasa kerinduan mereka pada anak-anak mereka. Mereka semuanya keluar menuju panggilan Rasulullah untuk menyongsong perang besar.

Ikhwati fillah,
Para mufassir menerangkan bahwa ada sejumlah sahabat yang termasuk sebagai orang-orang yang faqir, mereka tidak memiliki kendaraan untuk berangkat berjihad. Mereka datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak ada apa-apa untuk berjihad” Mata mereka lalu bercucuran air mata karena kesedihan mereka yang sangat mendalam.

Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yg apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tak memperoleh kendaraan untuk membawamu". lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tak memperoleh apa yg akan mereka nafkahkan.
 
Itulah perasaan mereka.
Hancur luluh.
Sedih.
Merana.

Bagai teriris iris hati mereka mendengar derap pasukan berangkat, dan suara unta melengu gembira menuju Tabuk. Sedih karena termasuk sebagai orang yang tak mampu, sebagai orang yang tak berguna, sedih sebagai orang yang rela duduk, sedih sebagai orang yang bodoh karena melepaskan kesempatan mulia. Maka Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang ridha terhadap perasaan mereka dan Allah mengampuni mereka karena sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tulus.

Saudaraku,
Para sahabat nabi memang begitu mulia. Mereka menangis, mencucurkan air mata. Tapi air mata mereka yang menetes bukan kerena mereka melakukan dosa dan bertaubat. Justru, kesedihan mereka itu karena mereka tidak bisa melakukan perintah Allah dan Rasulnya. Berbeda sekali dengan tangisan kita hari ini, dalam situasi ini. Kita bahkan tidak menangis sedikitpun meski banyak melewatkan berbagai perintah Allah dan Rasulnya. Kita bahkan tidak bersedih dan bahkan masih bisa bergembira meskipun berulang kali mengabaikan perintah Allah swt.

Saudaraku,
Jika dulu medan Tabuk mungkin hanya kekurangan satu, dua atau lima orang. Tapi Tabuk hari ini kekurangan ribuan bahkan jutaan pejuang yang ingin keluar meninggalkan rumah, menyerukan manusia kepada Allah dan mempertahankan agama Allah.

Dulu  Perang Tabuk didanai oleh Uthman bin Affan, setelah Abu Bakar menyerahkan semua hartanya dan Umar al-Khattab memberikan setengah hartanya. Tapi ”Tabuk” hari ini diwarnai dengan kehidupan yang susah di Palestina dan Iraq, namun sedikit umat Islam yang peduli terhadap mereka. Tabuk yang dulu tetap mendorong para sahabat untuk berangkat dengan mengabaikan indahnya musim panen. Nikmatnya tinggal bersama keluarga dan anak-anak. Tetapi “Tabuk” hari ini, justru dijauhi oleh kita yang sangat terikat oleh kenikmatan dan kebahagiaan di rumah bersama istri dan anak-anak, sambil menikmati hidangan yang lezat.

Saudaraku,
Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan, para sahabat yang faqir saat akan berangkat perang Tabuk, menangis dan datang menghadap Rasulullah s.a.w dengan membawa apa pun yang mereka punya untuk diberikan di jalan Allah, hingga akhirnya Rasulullah mengatakan “Wallahi maa hamaltukum walakinna Allah hamalakum”
Demi Allah, bukan aku yang akan mengangkut kalian (ke dalam pasukan Tabuk), Tapi Allah lah yang akan mengangkut kalian.
Saudaraku,
Tahukan kita mengapa Allah sangat menginginkan orang faqir seperti mereka untuk masuk dalam barisan Tabuk? Padahal jelas mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki harta yang cukup. 

Mungkin, karena Allah sudah mengetahui ketulusan mereka. Maka mereka pun bisa dimasukkan ke dalam barisan pejuang untuk melakukan pembelaan terhadap agama-Nya. Ketulusan itu begitu nyata ketika mereka secara spontan mengalirkan air mata.

Sementara kita, hati ini telah sering mengabaikan berbagai perintah Allah, absen dalam banyak medan dakwah, hilang di banyak kesempatan yang mulia. Kita melewatkan perintah-perintah Allah dan tidak hadir bukan dalam satu, dua atau tiga hal saja, tapi mungkin puluhan, ratusan, ribuan atau mungkin lebih dari itu. Tapi kita belum juga menangisi itu semua. Dan kita, mungkin juga tidak pernah bersedih apalagi mencucurkan air mata, karena tidak punya sesuatu yang bisa dipersembahkan kepada Allah.

Dari buku Allah kokohkan Hati Kami di atas JalanMu, karya Muhammad Lili Nur Aulia.

Keluarga Berencana, Yang Muda Yang Berencana

Tuesday, May 7, 2013

Sebenarnya saya belum membaca buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam (Cara Mendidik Anak-Anak dalam Islam) karangan Syeikh Abdullah Nasih Ulwan. Banyak yang mengatakan buku ini mantap !
Tetapi saya ingin menunda membacanya sehingga tiba waktunya * hehehe.. ^_^

Namun setelah menghadiri program bersama anak-anak tempo hari, saya merasa Tarbiyatul Aulad ini begitu penting. Hal yang mungkin tampaknya remeh, tetapi besar implikasinya terhadap masa depan umat islam.

Dan saya tidak sendirian dalam memahami hal ini. Tokoh-tokoh Islam yang besar, seperti Imam Hassan Al Banna, Imam Al Ghazali, telah menuliskan kurikulum dalam mendidik anak-anak, karena tahu bahwa hal ini cukup penting..

Namun….
Mulailah Dengan Diri Sendiri Dahulu..
Banyak yang menyangka Tarbiyatul Aulad ini dimulai ketika setelah menikah, dan telah dianugrahkan oleh Allah anak-anak.
Maaf, itu salah !

Mempelajari Tarbiyatul Aulad ini sebenarnya harus dilakukan sebelum anak itu dilahirkan.
Ataupun dengan gaya bahasa yang sedikit extreme, 40 tahun sebelum anak itu dilahirkan.
40 tahun ?!! Ya benar!
Itulah salah satu ungkapan yang diucapkan oleh ayahnya  Imam Al Ghazali, saat ia ditanya bagaimana cara dia mendidik Imam Al Ghazali.

Coba kita bayangkan bersama.
Ketika ditanya seperti itu, usia ayah Imam Al Ghazali adalah 55 tahun, maka 40 tahun sebelum itu, usianya adalah 15 tahun.

15 tahun sudah berfikir bagaimana untuk merancang keluarga ? Ya !

Memikirkan bagaimana membina individu/keluarga muslim itu telah dimulai sejak usia remaja ini. Bukannya ketika setelah akad nikah, baru merancang bersama istri bagaimana masa depan keluarga, tetapi sekarang!

Coba fikirkan baik-baik, sempatkah sehari atau sebulan sebelum menikah, atau 6 bulan sebelum melahirkan, baru kita merancang bagaimana bentuk pendidikan dan keluarga yang bakal kita bina ? Saya rasa tidak sempat. Dan bahkan sudah telat.

Jadi, ayo kita mulai dari sekarang !
*Ehh,, tapi mau mulai darimana?

Angan-angan sebelum tidur
“Antum bayangkan hal itu sebelum tidur, antum ingin keluarga yang seperti apa? Anak-anak dan Istri yang bagaimana ?“ kata seorang sahabat saya, "ingat.. ! tidak salah berangan-angan, tapi jangan berlebihan" Hehehe.. kami tertawa bersama.

Saya jadi semangat ! Semangat untuk merancang keluarga ! Karena apa ?
Karena saya tahu dan semua orang juga sudah tahu, untuk melahirkan generasi muslim yang akan menegakkan Islam, maka ia harus dimulai dari keluarga, yang dinamakan sebagai Baitul Muslim ataupun Keluarga Muslim. Maka, mulai sekarang kita harus meningkatkan ‘angan-angan’ itu, serta perbanyak ilmu berkaitan dengan Tarbiyatul aulad atau pendidikan anak-anak ini.

Dan langkah yang selanjutnya adalah !

Mencari calon istri yang solehah

Istri yang solehah merupakan roh sebuah rumah tangga. Ia mampu menenangkan sebuah jiwa dan dengannya akan teratur sebuah kehidupan. Dia berperan untuk mengatur rumah, mendidik anak-anak dan membesarkan mereka di atas landasan kemuliaan, kebenaran dan kebaikan. Mereka seharusnya merasa bertanggungjawab seandainya anak-anak mereka ‘tidak menjadi’, menjadi sampah masyarakat atau bahkan musuh islam. Tugas ibu bukan sekedar membuatkan makan minum dan mencucikan pakaian anak-anak saja, tetapi juga untuk membuat segala potensi, rohani, jasmani, emosi dan intelektual anak-anak.

Ya benar. Isteri adalah individu pertama yang selalu dekat dengan anak-anak.  Maka, secara tidak langsung ibu adalah individu yang paling penting dalam proses pentarbiyahan seorang anak.

Disebutkan dalam satu kisah yang semoga tidak salah, yakni bagaimana ibu dari Sultan Muhammad Al Fatih mentarbiyah anaknya.

Setiap hari tanpa bosan, ibu  Sultan Muhammad Al Fateh ini membawa Sultan Muhammad Al Fatih  ke sebuah tebing yang betul-betul menghadap kota Konstantinopel sambil berkata..

“Wahai anakku, di sana terdapat Kota Konstantinopel. Dan Rasulullah SAW bersabda: Konstantinopel itu akan ditaklukkan oleh tentara Islam. Penakluknya adalah sebaik-baik raja, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Ketahuilah anakku, engkau lah orangnya”

Persoalannya, apakah ibu Sultan Muhammad Al Fatih tahu bahwa anaknya itu yang akan menaklukkan kota Konstantinopel ?

Tidak tahu ! Sama sekali tidak tahu !

Tetapi karena ia percaya pada janji Allah dan optimis dengan cita-citanya, ibu Sultan Muhammad Al Fatih ini tanpa bosan terus memotivasi anaknya dengan hadits itu.

Dan akhirnya ,
Sultan Muhammad Al Fatih berhasil membuka kota Konstantinopel, setelah 800 tahun berlalu.
Maka benarlah seperti apa yang dikatakan oleh Saidina Umar r.a
“Di balik kesuksesan seorang lelaki itu, lihatlah bagaimana ibunya”

Lalu bagaimana mendapatkan seorang istri yang solehah? (nah, yang ini saya tidak mau bahas ^_^)


Tanggungjawab dakwah kita kepada anak-anak dan remaja

sadarkah kita bahwa pada usia remaja, bimbingan dan nasihat amatlah diperlukan bagi diri mereka yang sedang mengalami transisi kedewasaan. Mereka sebenarnya sedang mencari teladan yang dirasa sesuai untuk diikuti sebagai idola.

Jika tidak kita tanamkan semangat dan rasa cinta kepada yang seharusnya menjadi teladan dalam hati mereka, nanti mereka akan jatuh cinta pada mereka yang tidak seharusnya menjadi teladan? Siapa tahu?

“bang, malam ini temankan Lisa nonton konser WALI di korem ya ? Plizz …”
“Oi mi, ade JKT48 nih datang, yok kite liat..”

Sahabat,
Rasulullah dan para sahabatnya, para ulama, atau tokoh2 hebat kaum muslimin, yang hendak kita tanamkan menjadi idola mereka, tentu bukanlah orang yang akan menjadi pasangan hidup mereka. Begitu juga idola-idola yang tidak pantas menjadi idola. Tetapi mereka adalah idola-idola penting yang bakal mempengaruhi kehidupan anak-anak ini sejak kecil hingga dewasa.
 
Maka, apakah solusinya ?
Mari kawan, tidak salah jika anda menabung Rp. 25.000 sebulan, dikumpulkan untuk membeli buku Tarbiyatul Aulad, atau mungkin menghadiahkannya kepada adik-adik remaja yang anda kenali.

Tidak salah juga anda korbankan sedikit waktu luang anda untuk membahas hal ini kepada mereka.

Tidak salah juga jika anda rendahkan martabat diri anda, bergaul dengan mereka, kenali mereka, nasihati mereka. Karena mereka sangat butuh untuk dikenalkan idola yang seharusnya untuk diikuti. Atau mungkin anda lah yang pantas menjadi idola mereka.

Semoga kisah di bawah ini menjadi inspirasi buat anda, karena kisah ini tersangat menginspirasi saya.

"Seorang anak kecil di Kota Madinah bernama Umair selalu bermain dengan burung pipit peliharaanya. Nabi saw menamakan burung itu al-nughair (anak burung pipit). Setiap kali melihat umair, Nabi berkata ” Wahai Umair apa yang dilakukan oleh al-nughair ?
suatu hari saat Rasulullah SAW berkeliling bersama sahabat, tiba-tiba Rasulullah  SAW melihat seorang Umair sedang menangis"

(Bayangkan, seorang Pemimpin yang hebat, berhenti karena melihat tangisan anak kecil ?”)

“Ya Umair, mengapa kamu menangis?”
“Burung kecilku baru saja mati Ya Rasulullah” Kata Umair, sambil mengesat-ngesat air matanya.

Lalu anda tahu apa yang Rasulullah saw lakukan?

“Nabi saw pun duduk sejenak dan bermain dengan Umair. Para sahabat yang terlihat Rasulullah pun bertanya, lalu Baginda saw menjawab ” al nughair telah mati” karenanya aku ingin menghibur Umair. (HR Bukhari no 6203)

Subhanallah, jika pemimpin hebat seperti Rasulullah saw yang sudah tentu lebih sibuk dari kita, begitu peka akan perasaan seorang anak kecil? lalu bagaimana dengan kita?

Mari kita borong sama-sama buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam Jilid 1 dan 2 : Syeikh Abdullah Nasih Ulwan, di Granada Bookmart - Kopma Untan..

Jangan Remehkan Mereka Yang Tidak 'Tarbiyah'

Saya tidak tahu ingin memulai dari mana. Tetapi, saya harus katakan bahwa penularan penyakit ini semakin membuat hati dan telinga saya 'panas'. Lalu jari jemari saya semakin gatal mau mengetik di keyboard agar meringankan ‘beban’ yang panas ini. 

“Saya takkan pergi ke pasar malam. Jika saya pergi pun, saya tidak akan beli apa-apa. Lihatlah, mereka itu solat atau tidak? Makanan yang kita makan itu dari tangan orang tdk solat, tdk tutup aurat dengan baik? Makanan itu kah yang akan kita berikan kepada keluarga kita?”

Saya dan teman saling memandang. Mata kami membulat dengan dahi berkerut. Penceramah di hadapan meneruskan ide-idenya.

“ Dengar sini, kalau ada ‘akhwat’ kirim sms ke antum jam 2 pagi, tanya hal yang tidak penting, jangan pernah ambil dia sebagai istri”

Uhukuhuk. Wow, itu satu tips untuk akhwat juga! Hmm…

APA MASALAHNYA

Ya, tidak ada kesalahan teknis pada penyataan di atas. Siapa juga yang mau makan dari hasil tangan orang yang tidak sholat, ahli maksiat dan tidak masuk syurga? Siapa pula yang berharap beristrikan atau bersuamikan si pengirim SMS lewat tengah malam, atau kata-kata popular ahli tarbiyah, “ Tak jaga ikhtilath?”  Nanti apabila sudah menikah, dibelakang pasangannya pun ia akan melakukan hal yang sama, berhubungan dengan yang lain tanpa batasan!

Tetapi, ya tetapi…

Menjadi da’i atau peserta tarbiyah seringkali membuat diri sendiri menjadi berlebihan. Merasakan, hanya kita dan sesungguhnya hanya kita, dan tidak ada yang lebih baik daripada kita. Merasa tidak ada yang lebih rajin sholat daripada kita. Merasa hanya amal dari kita, dari partai kita, atau dari jamaah kita yang paling nyata. Merasakan hanya kita lah yang lebih layak diambil sebagai isteri atau suami, yang lebih wara’ sikapnya dibandingkan manusia ‘ammah’ lain yang kita lihat di pasar malam, di dalam kampus, di tepi-tepi jalan, di pasar, di facebook dan di mana-mana tempat yang kita rasa di situ adalah ‘sarang maksiat’.

Memandang manusia lain yang tidak menutup aurat sebagai picisan, meremehkannya, dan  memandang satu kesalahannya seolah-olah ia sedang menanggung dosa yang sangat berat, serta menilai keberadaan seseorang di suatu tempat adalah lambang keimanannya.
 
MENGAPA TIDAK…

…kita bersangka baik. Ataukah kita terlalu ‘izzah (atau bangga) dengan tarbiyah yang kita miliki sehingga kita merasakan  bahwa hanya kita sajalah manusia yang paling beriman di muka bumi ini. Sebagai tanda syukur kita karena memperoleh nikmat tarbiyah, membuat kita merasa ‘orang lain’ tidak bernasib baik seperti kita. 

Hati-hatilah pada kata-kata yang kita ucapkan saat mendiskusikan tentang mereka, hati-hatilah terhadap ideologimu saat membanding bedanya jahiliyahnya mereka (yang ammah) dan taqwanya dirimu. 

Jangan sampai bersangka-sangka, menghukum dengan hanya dengan satu pandangan, dan merasa ‘ujub akan kesucian dirimu. Saat itulah amal seorang da’i/aktivis akan tersungkur hancur bagai debu. Dan mereka yang dianggap tidak solat, tidak layak dibuat ‘jodoh’, dan mereka yang kita anggap tidak sholeh, tidak beramal, dan tidak bekerja untuk dakwah, akan melambaimu di pintu syurga.

KETAHUILAH…

Tidak semua orang yang beramal ibadah lalu menunggu-nunggu agar orang melihat akan amalnya itu. Tidak semua orang ingin menunjukan dirinya adalah anak tarbiyah dan  ingin kebaikannya agar diakui semua orang. 

Kawan, barangkali kita masih berada di kelompok orang tarbiyah, lalu kita mudah ‘sensitif’ dengan satu kesalahan ikhwan kita dan lalu hilanglah tsiqah terhadapnya. Barangkali kita biasa menampilkan amal untuk berlomba-lomba akan siapakah yang paling terdepan.

Berjalanlah kalian dimuka bumi... Tidak semua mereka yang bercelana jeans, berambut panjang dan bertato itu adalah preman. Belum tentu ikhwan yang kita tahu tidak aktif di jamaah kita, atau bahkan tidak aktif jamaah manapun adalah orang yang ammah terhadap diennya. Tidak seharusnya juga ukhti yang mengirim SMS di malam hari dihukum menjadi PERAWAN TUA karena dijauhi ikhwan-ikhwan yang mengetahui ketidakpeduliannya dalam masalah ‘ikhtilat’.

Siapa tau..

Mereka yang kita sangkakan 'ammah' ternyata adalah ‘seseorang di sisi Allah’, sedang kita yang begitu ‘izzah dalam menjaga  kata-kata dan kelakuan kita, mungkin sedang dipilih Allah untuk ke jurang neraka. 

Ya, saya banyak bertemu manusia ‘aneh’ yang soleh dan manusia soleh yang aneh. Mungkin karena saya diberikan peluang hidup dalam keadaan dua dunia yang berbeda; dunia tarbiyah dan dunia sosial. 

Tidak jarang saya temukan manusia ‘ammah’ ini lebih manusiawi, lebih sufi dan lebih bagus akhlaknya daripada orang soleh. Mungkin itu karena mereka sadar, mereka bukanlah ustad, ustadzah sehingga mereka tidak menunjukkan amal-amal dan luasnya ilmu agama mereka.

Kita bukanlah hakim terhadap iman dan amal manusia. Sedangkan malaikat tugasnya hanya mencatat, karena apa yang dalam hati itu hanya Allah mengetahuinya. Tidak rugi jika kita berprasangka baik, memandang diri sendiri yang tidak cukup baik. Jika tidak mampu mengontrol zhonn dalam hati, jangan pula kita sebarkan prasangka ke segenap alam. Ingatlah, tarbiyah bukan satu-satunya jalan ke surga, karena surga itu banyak pintunya..

wallahualam..

Teladan Seorang Ibu: Aku Hadiahkan putraku untuk Allah

Di Madinatirrasul, ada seorang mujahid bernama Abu Qudamah Asy-Syami, Allah telah menamamkan rasa cinta kepada laki-laki ini terhadap jihad fi sabilillah. Suatu saat ia sedang berbincang dengan sahabat-sahabatnya di Masjid Nabawi. Mereka berkata : “Ya Aba Qudamah, ceritakan kami pengalaman yang paling berkesan dan unik selama kamu berjihad.”

Abu Qudamah pun memulai ceritanya:

Beberapa tahun lalu, aku pernah menginjakkan kakiku di wilayah Raqqah [kota ditepi sungai Eufrat], saat itu aku sedang mencari onta untuk keperluan perang.

Suatu hari, ketika aku sedang duduk, seorang perempuan menghampiri ku seraya berkata, “Bukankah anda adalah Abu Qudamah? Aku banyak mendengar bahwa anda sering memberi pelajaran tentang jihad dan mengajak kaum muslimin untuk berjihad. Aku adalah seorang wanita yang Allah karuniakan rambut panjang yang tidak dimiliki oleh wanita selainku, aku telah memotongnya dan membuatnya sebagai pelana untuk kuda dan onta, aku sangat senang jika anda membawanya dan menggunakannya, bila anda sampai di wilayah musuh, gunakanlah ia jika tidak serahkan kepada orang lain yang lebih membutuhkan agar rambut ini dapat merasakan debu jihad fi sabilillah.

Aku adalah seorang janda, dulu aku memiliki suami, ia dan saudara laki-lakinya semua syahid untuk menegakkan kalimat Allah, jika perempuan diwajibkan untuk berjihad tentu aku akan turut serta. Ketahuilah wahai Abu Qudamah, ketika suamiku wafat, ia meninggalkan anak laki-laki yang amat baik akhlaknya, bagus rupanya, ia telah hafal al Qur’an, mahir menunggang kuda dan jago memanah, ia anak yang senang menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah dan siang harinya dengan berpuasa, umurnya baru 15 tahun, kini ia bekerja di ladang peninggalan ayahnya, sebentar lagi ia akan datang untuk menyertaimu berjihad, bawalah ia bersamamu sebagai HADIAH BAGI ALLAH, aku memintamu atas nama ketinggian Islam, jangan menahan pahala yang aku harapkan dari-Nya.”

Setelah itu aku mengambil beberapa buah tali kekang kuda yang ia buat dari rambutnya, ia berkata,  ”Biarkan aku melihat anda meletakkannya di atas sebagian pelanamu agar aku dapat menenangkan hatiku.” Akupun meletakkannya diatas pelanaku dan setelah itu akupun berangkat bersama para mujahidin keluar dari kota Raqqah.

Sesampainya kami di benteng Maslamah ibn Abdil Malik, tiba-tiba ada seorang penunggang kuda berkata dari belakangku, “Ya Aba Qudamah, berhentilah sebentar, semoga Allah merahmatimu!”
Akupun berdiri disampingnya, dia merangkulku seraya berkata, “Alhamdulillah, yang telah mengizinkanku berjumpa dan bersahabat denganmu dan tidak membiarkanku pulang dengan kekalahan dan tangan kosong.”

Aku menjawab dengan takjub, “Wahai putraku, tahan dirimu, biar aku melihat wajahmu, bila kamu sudah cukup umur, aku izinkan kamu ikut bersamaku jika umurmu belum cukup, aku akan mengembalikanmu kepada kedua orang tuamu.” Ternyata ia adalah seorang remaja yang berwajah cerah seperti bulan di malam purnama, garis wajahnya terlukis jejak nikmat yang pernah dikecapnya.
Aku melanjutkan pertanyaanku, “Apakah kamu masih memiliki ayah?”

Ia menjawab : “Tidak, bahkan aku keluar untuk berjihad karena mengikuti jejak ayahku yang syahid fi sabilillah, karena itu aku sangat berharap Allah Ta’ala anugerahkan aku syahid sebagaimana ayahku.”
Aku berkata, “Wahai putraku sayang, apakah kamu masih punya ibu?” Ia pun meng-iya-kannya.
Aku berkata, “Jika begitu minta izin dulu kepadanya, ketaatanmu padanya lebih utama dari jihad karena surga berada dibawah kilatan pedang dan dibawah telapak kaki ibu.”

Ia menjawab, “Wahai Abu Qudamah, apakah anda benar tidak mengenaliku?” Akupun menggelengkan kepala.

Ia melanjutkan, “Aku adalah putra dari seorang perempuan yang mengamanahkan sesuatu padamu. Apakah anda lupa wasiat seorang perempuan pemilik tali kekang? Aku mengharapkan syahid sebagaimana ayahku, aku meminta padamu atas nama Allah agar jangan menghalangiku meraih kemenangan di medan tempur, aku hafal al Qur’an, paham sunnah Nabi saw, aku terampil menunggang kuda dan jago memanah, aku tidak meninggalkan seorangpun ahli memanah di kota kami selain diriku, jangan anda meremehkanku lantaran usiaku yang masih remaja. Ibuku juga bersumpah agar aku jangan pulang sampai mendapatkan syahid.

Ibuku berpesan, ‘Anakku, jika engkau berjumpa dengan musuh, jangan memalingkan badan dan lari, hadiahkanlah dirimu untuk Allah. Mohon agar kamu selalu berada dalam lindungan-Nya serta mempertemukanmu dengan ayahmu dan paman-pamanmu yang shalih di surga-Nya. Jika Allah memberimu syahid jangan kamu lupakan ibu, mohonkan syafaat kepada Allah untukku karena aku pernah mendengar bahwa orang yang mati syahid diperkenankan oleh Allah memberi syafaat bagi 70 orang dari keluarganya’. Lalu ia memelukku dan mengangkat kepalanya ke arah langit seraya berkata, ‘Ya Allah, inilah anak laki-lakiku, pengharum jiwaku, buah hatiku, aku serahkan ia pada-Mu, maka dekatkan ia kepada ayahnya’.”

Setelah mendengar pengakuannya, aku menangis sejadi-jadinya, bangga dengan kebaikannya di saat begitu muda usianya, kelemahlembutan dan kesabaran ibunya.

“Hai pamanku, apa yang membuatmu menangis? Bila anda menangisi umurku yang masih muda, sungguh Allah akan mengazab orang yang lebih muda dariku jika ia bermaksiat kepada Allah.”
Aku mengatakan bahwa aku tidak menangisi umurnya tapi bagaimana dengan ibunya, bagaimana nanti kalau ia hidup tanpa dirinya.

Kamipun meneruskan perjalanan, kami bermalam disebuah tempat, saat pagi kamipun melanjutkan perjalanan, aku lihat anak itu tidak pernah berhenti berdzikir. Aku senang memperhatikannya, ia orang yang paling ahli mengendalikan kuda dibanding kami semua, ia banyak membantu saat kami istirahat dan bermalam. Semakin jauh kami berjalan semakin nampak kekuatan azzamnya, semakin tinggi semangatnya dan semakin tegar hatinya, cahaya kebahagiaan terpancar jelas terlukis di wajahnya.

Kami masih meneruskan perjalanan hingga hampir mendekati perkampungan orang-orang musyrik ketika matahari tenggelam di ufuk barat dan anak itupun memasak untuk kami berbuka puasa, hari itu kami semua berpuasa.

Saat malam anak itupun tertidur dengan nyenyak, bibirnya tersenyum saat ia tertidur, aku berkata kepada pasukanku, “Tidakkah kalian melihat senyumnya padahal ia masih tertidur.”

Ketika ia bangun dan sadar, aku berkata “Anakku, aku melihatmu tertidur namun kamu tersenyum dan tertawa.”

Ia menjawab, “Paman, saat aku tidur, aku bermimpi sangat indah, akupun tertawa gembira.” Aku bertanya, “Mimpi apa kamu?”

Ia bercerita, “Aku melihat ruangan di surga berwarna hijau, megah dan cantik. Saat aku berjalan mengitarinya, aku mendapati sebuah istana yang dindingnya terbuat dari permata, pintunya terbuat dari emas, tirainya sangat halus, aku melihat banyak bidadari menarik tirai tersebut, wajah mereka bersinar bak rembulan, ketika melihatku mereka berkata, ‘Selamat datang untukmu’. Aku ingin sekali menyentuhnya namun mereka mengatakan, ‘Jangan terburu-buru, waktu yang dijanjikan untukmu sebentar lagi akan datang’. Aku mendengar sebagian mereka mengatakan, ‘Ini adalah suaminya Mardhiyyah’.

Mereka menyuruhku mendekat dan ternyata didalam istana itu ada sebuah kamar yang terbuat dari emas berwarna merah, disana ada sebuah ranjang berwarna hijau, tiangnya terbuat dari perak berwarna sangat putih. Di atas kasur itu ada seorang bidadari sangat cantik wajahnya seterang mentari, jika Allah tidak membantu penglihatanku niscaya kedua mataku akan hilang. Akalku pun akan lenyap bersamaan karena tidak kuasa melihat keindahan kamar dan keelokan bidadari tadi. Ketika ia melihatku, ia berkata manis, ‘Selamat datang wahai wali Allah dan kekasih-Nya, kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu’.

Ketika aku akan memeluknya, ia berkata, ‘Sabarlah, jangan tergesa-gesa karena engkau adalah orang yang jauh dari kekejian, waktu kita untuk bertemu dan hidup bersama selamanya adalah esok hari saat adzan dzuhur. Karena itu bergembiralah!’”

Aku berkata, “Putraku, aku melihat kebaikan pada dirimu, semoga kebaikan pula yang terjadi atas dirimu.”

Malam itu kami takjub akan mimpi anak itu, ketika pagi seluruh pasukan menaiki kuda masing-masing, saat itu sangat jelas ada suara yang memanggil kami, “Wahai kuda-kuda Allah berlarilah, bergembiralah dengan surga !”

Tak lama setelah itu pasukan musuh pun menghadang kami, seperti belalang yang beterbangan, orang pertama dari pasukan mujahidin yang menghadapi mereka adalah anak muda tadi, ia memporakporandakan barisan musuh, menggentarkan mereka dan banyak yang terbunuh baik dari prajurit dan perwira-perwira mereka. Ketika aku melihatnya aku segera menyusulnya dan menarik kekang kudanya sambil berkata, “Anakku sayang, mundurlah ke belakang, kamu masih sangat belia belum tahu siasat pertempuran.”

Ia menjawab, “Pamanku, tidakkah paman mendengar firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ [الأنفال/15
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).”

“Apakah paman ingin aku termasuk penghuni neraka?”

Ketika kami tengah berbicara, pasukan musyrikin bersatu dalam satu komando menyerang kami. Mereka berusaha memisahkan aku dengan pemuda tadi. Mereka merebutnya dariku, pertempuran memanas, setiap orang sibuk dengan lawan masing-masing. Banyak mujahidin yang syahid, ketika kedua pasukan saling menjauh, akupun berjalan dengan kudaku diantara para pejuang yang gugur, banyak darah mengalir diatas bumi. Wajah mereka sulit dikenali lantaran debu dan darah yang menyatu.

Saat aku mengitari para pejuang yang gugur, aku berhenti disamping anak muda yang tersungkur penuh debu. Ia tengah membalikkan tubuhnya di tumpukan debu, ia berkata, “Hai pasukan muslimin, demi Allah aku meminta kalian untuk memberitahukan kondisiku kepada pamanku, Abu Qudamah!”
Aku menghampirinya, tubuhnya telah bercampur dengan debu dan darah yang banyak sehingga ia sulit dikenali, aku berkata, “Akulah Abu Qudamah.”

Ia mengatakan, “Pamanku, demi Pemilik Ka’bah, mimpi itu ternyata benar. Aku adalah anak sang wanita yang menitipkan tali kekang padamu.” Aku mencium keningnya lalu mengusap debu dan darah dari wajahnya seraya berpesan padanya, “Putraku, jangan engkau lupakan pamanmu ini, Abu Qudamah. Jadikan aku jajaran orang yang engkau beri syafaat.”

Ia menjawab, “Orang sepertimu tidak akan terlupa, paman mengusap wajahku dengan bajumu, bajuku lebih berhak mengusap dari bajumu. Biarkan aku wahai paman, biarkan aku seperti bertemu dengan Rabb-ku, paman.. bidadari yang pernah aku ceritakan kemarin, kini berdiri didekat kepalaku menunggu ruhku keluar, ia berkata ‘Cepatlah keluar, aku sangat rindu padamu’. Demi Allah wahai paman, jika Allah mengembalikanmu dengan selamat, bawakan bajuku yang berlumur darah ini kepada ibuku yang sangat aku kasihi, berikan ini kepadanya agar ia percaya bahwa aku tidak menyia-nyiakan wasiatnya. Sampaikan salamku padanya dan beritakan bahwa aku tidak gentar menghadapi musuh dan katakan padanya bahwa Allah telah menerima hadiahnya.

Aku memiliki adik perempuan berusia 10 tahun, setiap aku masuk rumah dia-lah yang pertama menyalamiku, bila aku pergi dia-lah yang terakhir mendoakanku, dalam perjalanan kali ini pun dia mendoakanku dan mengucapkan selamat tinggal seraya berkata, ‘Kakakku, demi Allah jangan terlalu lama di perjalanan’. Jika bertemu dengannya maka sampaikan salamku untuknya dan katakan bahwa Allah-lah penjaganya setelah aku tiada sampai hari kiamat.”

Anak itu tersenyum padaku sambil berkata, “Aku bersaksi tidak ada Ilah kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, janji Allah adalah pasti dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, Maha benar Allah dan Rasul-Nya.”

Tidak lama berselang anak itupun meninggal dunia, kami mengafaninya lalu menguburkannya.

Setelah peperangan usai kami pun kembali ke kota Raqqah. Yang pertama ada dalam benakku adalah pergi ke rumah pemuda itu. Aku melihat seorang anak kecil dengan perawakan dan wajah mirip dengan pemuda tadi, ia berdiri di depan pintu rumahnya. Setiap orang yang lewat ditanya, “Paman, dari mana anda datang?” Setiap orang menjawab, “Dari medan tempur.” Ia kembali bertanya, “Apakah abangku tidak pulang bersama paman?”

Ketika aku mendengarnya aku mendekatinya, ia pun menanyakan hal yang sama kepadaku, ia mengatakan, “Aku melihat orang berdatangan, aku tidak melihat abangku diantara mereka.”

Aku tidak kuasa membendung kesedihan dan air mataku, namun aku masih menahannya. Aku katakan padanya, “Hai anakku, katakan kepada pemilik rumah ini, Abu Qudamah ingin bicara padanya dan telah berada di depan pintunya.”

Wanita itupun keluar dengan raut muka yang sudah berubah, aku mengucapkan salam padanya, ia menjawabnya sambil bertanya, “Apakah anda membawa berita gembira atau duka?”

Aku berkata, “Terangkan padaku perbedaan berita gembira dan berita duka, semoga Allah merahmatimu.”

Ia mengatakan, “Jika anakku pulang dengan selamat, maka anda`membawa berita duka. Namun jika anakku syahid fi sabilillah berarti anda membawa berita gembira.”

Aku berkata, “Bergembiralah, karena Allah telah menerima hadiah darimu!”
I
a pun menangis sambil berkata,”Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya tabungan di hari kiamat.”

Aku bertanya tentang adik dari sang pemuda, ia berkata, “Dia-lah perempuan kecil yang baru saja anda ajak bicara”, ia maju ke hadapanku, aku katakan padanya, “Kakakmu mengirimkan salam untukmu dan berpesan bahwa Allah-lah yang akan menggantikannya menjagamu sampai hari kiamat.”

Tiba-tiba ia berteriak dan tak sadarkan diri, aku menggerak-gerakkan tubuhnya, ternyata anak itu telah meninggal. Aku terkejut dengan apa yang aku alami. Aku pun pergi setelah menyerahkan baju pemuda tadi kepada ibunya dengan kesedihan yang mendalam atas putrinya, sungguh sang ibu adalah sosok yang tegar dan sabar.”

Ya Allah jadikanlah kami orang tua yang mampu menghadiahkan putra putrinya bagi-Mu sebagaimana yang telah dilakukan oleh salah seorang hamba-Mu yang shalihah ini.
 
Support : Al-Mustaqbal.Net | Jamaah Tarbiyah | Ansar Mujahideen
Copyright © 2013. Catatan Anak Mushola Di Pontianak - All Rights Reserved
Saya hanya berusaha menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi
dengan kapasitas ilmu yang saya miliki