.

http://ibnumushab.blogspot.com

Latest Article Baca Sampai Habis Dulu, Baru Komen

Keluarga Berencana, Yang Muda Yang Berencana

Tuesday, May 7, 2013

Sebenarnya saya belum membaca buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam (Cara Mendidik Anak-Anak dalam Islam) karangan Syeikh Abdullah Nasih Ulwan. Banyak yang mengatakan buku ini mantap !
Tetapi saya ingin menunda membacanya sehingga tiba waktunya * hehehe.. ^_^

Namun setelah menghadiri program bersama anak-anak tempo hari, saya merasa Tarbiyatul Aulad ini begitu penting. Hal yang mungkin tampaknya remeh, tetapi besar implikasinya terhadap masa depan umat islam.

Dan saya tidak sendirian dalam memahami hal ini. Tokoh-tokoh Islam yang besar, seperti Imam Hassan Al Banna, Imam Al Ghazali, telah menuliskan kurikulum dalam mendidik anak-anak, karena tahu bahwa hal ini cukup penting..

Namun….
Mulailah Dengan Diri Sendiri Dahulu..
Banyak yang menyangka Tarbiyatul Aulad ini dimulai ketika setelah menikah, dan telah dianugrahkan oleh Allah anak-anak.
Maaf, itu salah !

Mempelajari Tarbiyatul Aulad ini sebenarnya harus dilakukan sebelum anak itu dilahirkan.
Ataupun dengan gaya bahasa yang sedikit extreme, 40 tahun sebelum anak itu dilahirkan.
40 tahun ?!! Ya benar!
Itulah salah satu ungkapan yang diucapkan oleh ayahnya  Imam Al Ghazali, saat ia ditanya bagaimana cara dia mendidik Imam Al Ghazali.

Coba kita bayangkan bersama.
Ketika ditanya seperti itu, usia ayah Imam Al Ghazali adalah 55 tahun, maka 40 tahun sebelum itu, usianya adalah 15 tahun.

15 tahun sudah berfikir bagaimana untuk merancang keluarga ? Ya !

Memikirkan bagaimana membina individu/keluarga muslim itu telah dimulai sejak usia remaja ini. Bukannya ketika setelah akad nikah, baru merancang bersama istri bagaimana masa depan keluarga, tetapi sekarang!

Coba fikirkan baik-baik, sempatkah sehari atau sebulan sebelum menikah, atau 6 bulan sebelum melahirkan, baru kita merancang bagaimana bentuk pendidikan dan keluarga yang bakal kita bina ? Saya rasa tidak sempat. Dan bahkan sudah telat.

Jadi, ayo kita mulai dari sekarang !
*Ehh,, tapi mau mulai darimana?

Angan-angan sebelum tidur
“Antum bayangkan hal itu sebelum tidur, antum ingin keluarga yang seperti apa? Anak-anak dan Istri yang bagaimana ?“ kata seorang sahabat saya, "ingat.. ! tidak salah berangan-angan, tapi jangan berlebihan" Hehehe.. kami tertawa bersama.

Saya jadi semangat ! Semangat untuk merancang keluarga ! Karena apa ?
Karena saya tahu dan semua orang juga sudah tahu, untuk melahirkan generasi muslim yang akan menegakkan Islam, maka ia harus dimulai dari keluarga, yang dinamakan sebagai Baitul Muslim ataupun Keluarga Muslim. Maka, mulai sekarang kita harus meningkatkan ‘angan-angan’ itu, serta perbanyak ilmu berkaitan dengan Tarbiyatul aulad atau pendidikan anak-anak ini.

Dan langkah yang selanjutnya adalah !

Mencari calon istri yang solehah

Istri yang solehah merupakan roh sebuah rumah tangga. Ia mampu menenangkan sebuah jiwa dan dengannya akan teratur sebuah kehidupan. Dia berperan untuk mengatur rumah, mendidik anak-anak dan membesarkan mereka di atas landasan kemuliaan, kebenaran dan kebaikan. Mereka seharusnya merasa bertanggungjawab seandainya anak-anak mereka ‘tidak menjadi’, menjadi sampah masyarakat atau bahkan musuh islam. Tugas ibu bukan sekedar membuatkan makan minum dan mencucikan pakaian anak-anak saja, tetapi juga untuk membuat segala potensi, rohani, jasmani, emosi dan intelektual anak-anak.

Ya benar. Isteri adalah individu pertama yang selalu dekat dengan anak-anak.  Maka, secara tidak langsung ibu adalah individu yang paling penting dalam proses pentarbiyahan seorang anak.

Disebutkan dalam satu kisah yang semoga tidak salah, yakni bagaimana ibu dari Sultan Muhammad Al Fatih mentarbiyah anaknya.

Setiap hari tanpa bosan, ibu  Sultan Muhammad Al Fateh ini membawa Sultan Muhammad Al Fatih  ke sebuah tebing yang betul-betul menghadap kota Konstantinopel sambil berkata..

“Wahai anakku, di sana terdapat Kota Konstantinopel. Dan Rasulullah SAW bersabda: Konstantinopel itu akan ditaklukkan oleh tentara Islam. Penakluknya adalah sebaik-baik raja, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Ketahuilah anakku, engkau lah orangnya”

Persoalannya, apakah ibu Sultan Muhammad Al Fatih tahu bahwa anaknya itu yang akan menaklukkan kota Konstantinopel ?

Tidak tahu ! Sama sekali tidak tahu !

Tetapi karena ia percaya pada janji Allah dan optimis dengan cita-citanya, ibu Sultan Muhammad Al Fatih ini tanpa bosan terus memotivasi anaknya dengan hadits itu.

Dan akhirnya ,
Sultan Muhammad Al Fatih berhasil membuka kota Konstantinopel, setelah 800 tahun berlalu.
Maka benarlah seperti apa yang dikatakan oleh Saidina Umar r.a
“Di balik kesuksesan seorang lelaki itu, lihatlah bagaimana ibunya”

Lalu bagaimana mendapatkan seorang istri yang solehah? (nah, yang ini saya tidak mau bahas ^_^)


Tanggungjawab dakwah kita kepada anak-anak dan remaja

sadarkah kita bahwa pada usia remaja, bimbingan dan nasihat amatlah diperlukan bagi diri mereka yang sedang mengalami transisi kedewasaan. Mereka sebenarnya sedang mencari teladan yang dirasa sesuai untuk diikuti sebagai idola.

Jika tidak kita tanamkan semangat dan rasa cinta kepada yang seharusnya menjadi teladan dalam hati mereka, nanti mereka akan jatuh cinta pada mereka yang tidak seharusnya menjadi teladan? Siapa tahu?

“bang, malam ini temankan Lisa nonton konser WALI di korem ya ? Plizz …”
“Oi mi, ade JKT48 nih datang, yok kite liat..”

Sahabat,
Rasulullah dan para sahabatnya, para ulama, atau tokoh2 hebat kaum muslimin, yang hendak kita tanamkan menjadi idola mereka, tentu bukanlah orang yang akan menjadi pasangan hidup mereka. Begitu juga idola-idola yang tidak pantas menjadi idola. Tetapi mereka adalah idola-idola penting yang bakal mempengaruhi kehidupan anak-anak ini sejak kecil hingga dewasa.
 
Maka, apakah solusinya ?
Mari kawan, tidak salah jika anda menabung Rp. 25.000 sebulan, dikumpulkan untuk membeli buku Tarbiyatul Aulad, atau mungkin menghadiahkannya kepada adik-adik remaja yang anda kenali.

Tidak salah juga anda korbankan sedikit waktu luang anda untuk membahas hal ini kepada mereka.

Tidak salah juga jika anda rendahkan martabat diri anda, bergaul dengan mereka, kenali mereka, nasihati mereka. Karena mereka sangat butuh untuk dikenalkan idola yang seharusnya untuk diikuti. Atau mungkin anda lah yang pantas menjadi idola mereka.

Semoga kisah di bawah ini menjadi inspirasi buat anda, karena kisah ini tersangat menginspirasi saya.

"Seorang anak kecil di Kota Madinah bernama Umair selalu bermain dengan burung pipit peliharaanya. Nabi saw menamakan burung itu al-nughair (anak burung pipit). Setiap kali melihat umair, Nabi berkata ” Wahai Umair apa yang dilakukan oleh al-nughair ?
suatu hari saat Rasulullah SAW berkeliling bersama sahabat, tiba-tiba Rasulullah  SAW melihat seorang Umair sedang menangis"

(Bayangkan, seorang Pemimpin yang hebat, berhenti karena melihat tangisan anak kecil ?”)

“Ya Umair, mengapa kamu menangis?”
“Burung kecilku baru saja mati Ya Rasulullah” Kata Umair, sambil mengesat-ngesat air matanya.

Lalu anda tahu apa yang Rasulullah saw lakukan?

“Nabi saw pun duduk sejenak dan bermain dengan Umair. Para sahabat yang terlihat Rasulullah pun bertanya, lalu Baginda saw menjawab ” al nughair telah mati” karenanya aku ingin menghibur Umair. (HR Bukhari no 6203)

Subhanallah, jika pemimpin hebat seperti Rasulullah saw yang sudah tentu lebih sibuk dari kita, begitu peka akan perasaan seorang anak kecil? lalu bagaimana dengan kita?

Mari kita borong sama-sama buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam Jilid 1 dan 2 : Syeikh Abdullah Nasih Ulwan, di Granada Bookmart - Kopma Untan..

Jangan Remehkan Mereka Yang Tidak 'Tarbiyah'

Saya tidak tahu ingin memulai dari mana. Tetapi, saya harus katakan bahwa penularan penyakit ini semakin membuat hati dan telinga saya 'panas'. Lalu jari jemari saya semakin gatal mau mengetik di keyboard agar meringankan ‘beban’ yang panas ini. 

“Saya takkan pergi ke pasar malam. Jika saya pergi pun, saya tidak akan beli apa-apa. Lihatlah, mereka itu solat atau tidak? Makanan yang kita makan itu dari tangan orang tdk solat, tdk tutup aurat dengan baik? Makanan itu kah yang akan kita berikan kepada keluarga kita?”

Saya dan teman saling memandang. Mata kami membulat dengan dahi berkerut. Penceramah di hadapan meneruskan ide-idenya.

“ Dengar sini, kalau ada ‘akhwat’ kirim sms ke antum jam 2 pagi, tanya hal yang tidak penting, jangan pernah ambil dia sebagai istri”

Uhukuhuk. Wow, itu satu tips untuk akhwat juga! Hmm…

APA MASALAHNYA

Ya, tidak ada kesalahan teknis pada penyataan di atas. Siapa juga yang mau makan dari hasil tangan orang yang tidak sholat, ahli maksiat dan tidak masuk syurga? Siapa pula yang berharap beristrikan atau bersuamikan si pengirim SMS lewat tengah malam, atau kata-kata popular ahli tarbiyah, “ Tak jaga ikhtilath?”  Nanti apabila sudah menikah, dibelakang pasangannya pun ia akan melakukan hal yang sama, berhubungan dengan yang lain tanpa batasan!

Tetapi, ya tetapi…

Menjadi da’i atau peserta tarbiyah seringkali membuat diri sendiri menjadi berlebihan. Merasakan, hanya kita dan sesungguhnya hanya kita, dan tidak ada yang lebih baik daripada kita. Merasa tidak ada yang lebih rajin sholat daripada kita. Merasa hanya amal dari kita, dari partai kita, atau dari jamaah kita yang paling nyata. Merasakan hanya kita lah yang lebih layak diambil sebagai isteri atau suami, yang lebih wara’ sikapnya dibandingkan manusia ‘ammah’ lain yang kita lihat di pasar malam, di dalam kampus, di tepi-tepi jalan, di pasar, di facebook dan di mana-mana tempat yang kita rasa di situ adalah ‘sarang maksiat’.

Memandang manusia lain yang tidak menutup aurat sebagai picisan, meremehkannya, dan  memandang satu kesalahannya seolah-olah ia sedang menanggung dosa yang sangat berat, serta menilai keberadaan seseorang di suatu tempat adalah lambang keimanannya.
 
MENGAPA TIDAK…

…kita bersangka baik. Ataukah kita terlalu ‘izzah (atau bangga) dengan tarbiyah yang kita miliki sehingga kita merasakan  bahwa hanya kita sajalah manusia yang paling beriman di muka bumi ini. Sebagai tanda syukur kita karena memperoleh nikmat tarbiyah, membuat kita merasa ‘orang lain’ tidak bernasib baik seperti kita. 

Hati-hatilah pada kata-kata yang kita ucapkan saat mendiskusikan tentang mereka, hati-hatilah terhadap ideologimu saat membanding bedanya jahiliyahnya mereka (yang ammah) dan taqwanya dirimu. 

Jangan sampai bersangka-sangka, menghukum dengan hanya dengan satu pandangan, dan merasa ‘ujub akan kesucian dirimu. Saat itulah amal seorang da’i/aktivis akan tersungkur hancur bagai debu. Dan mereka yang dianggap tidak solat, tidak layak dibuat ‘jodoh’, dan mereka yang kita anggap tidak sholeh, tidak beramal, dan tidak bekerja untuk dakwah, akan melambaimu di pintu syurga.

KETAHUILAH…

Tidak semua orang yang beramal ibadah lalu menunggu-nunggu agar orang melihat akan amalnya itu. Tidak semua orang ingin menunjukan dirinya adalah anak tarbiyah dan  ingin kebaikannya agar diakui semua orang. 

Kawan, barangkali kita masih berada di kelompok orang tarbiyah, lalu kita mudah ‘sensitif’ dengan satu kesalahan ikhwan kita dan lalu hilanglah tsiqah terhadapnya. Barangkali kita biasa menampilkan amal untuk berlomba-lomba akan siapakah yang paling terdepan.

Berjalanlah kalian dimuka bumi... Tidak semua mereka yang bercelana jeans, berambut panjang dan bertato itu adalah preman. Belum tentu ikhwan yang kita tahu tidak aktif di jamaah kita, atau bahkan tidak aktif jamaah manapun adalah orang yang ammah terhadap diennya. Tidak seharusnya juga ukhti yang mengirim SMS di malam hari dihukum menjadi PERAWAN TUA karena dijauhi ikhwan-ikhwan yang mengetahui ketidakpeduliannya dalam masalah ‘ikhtilat’.

Siapa tau..

Mereka yang kita sangkakan 'ammah' ternyata adalah ‘seseorang di sisi Allah’, sedang kita yang begitu ‘izzah dalam menjaga  kata-kata dan kelakuan kita, mungkin sedang dipilih Allah untuk ke jurang neraka. 

Ya, saya banyak bertemu manusia ‘aneh’ yang soleh dan manusia soleh yang aneh. Mungkin karena saya diberikan peluang hidup dalam keadaan dua dunia yang berbeda; dunia tarbiyah dan dunia sosial. 

Tidak jarang saya temukan manusia ‘ammah’ ini lebih manusiawi, lebih sufi dan lebih bagus akhlaknya daripada orang soleh. Mungkin itu karena mereka sadar, mereka bukanlah ustad, ustadzah sehingga mereka tidak menunjukkan amal-amal dan luasnya ilmu agama mereka.

Kita bukanlah hakim terhadap iman dan amal manusia. Sedangkan malaikat tugasnya hanya mencatat, karena apa yang dalam hati itu hanya Allah mengetahuinya. Tidak rugi jika kita berprasangka baik, memandang diri sendiri yang tidak cukup baik. Jika tidak mampu mengontrol zhonn dalam hati, jangan pula kita sebarkan prasangka ke segenap alam. Ingatlah, tarbiyah bukan satu-satunya jalan ke surga, karena surga itu banyak pintunya..

wallahualam..

Teladan Seorang Ibu: Aku Hadiahkan putraku untuk Allah

Di Madinatirrasul, ada seorang mujahid bernama Abu Qudamah Asy-Syami, Allah telah menamamkan rasa cinta kepada laki-laki ini terhadap jihad fi sabilillah. Suatu saat ia sedang berbincang dengan sahabat-sahabatnya di Masjid Nabawi. Mereka berkata : “Ya Aba Qudamah, ceritakan kami pengalaman yang paling berkesan dan unik selama kamu berjihad.”

Abu Qudamah pun memulai ceritanya:

Beberapa tahun lalu, aku pernah menginjakkan kakiku di wilayah Raqqah [kota ditepi sungai Eufrat], saat itu aku sedang mencari onta untuk keperluan perang.

Suatu hari, ketika aku sedang duduk, seorang perempuan menghampiri ku seraya berkata, “Bukankah anda adalah Abu Qudamah? Aku banyak mendengar bahwa anda sering memberi pelajaran tentang jihad dan mengajak kaum muslimin untuk berjihad. Aku adalah seorang wanita yang Allah karuniakan rambut panjang yang tidak dimiliki oleh wanita selainku, aku telah memotongnya dan membuatnya sebagai pelana untuk kuda dan onta, aku sangat senang jika anda membawanya dan menggunakannya, bila anda sampai di wilayah musuh, gunakanlah ia jika tidak serahkan kepada orang lain yang lebih membutuhkan agar rambut ini dapat merasakan debu jihad fi sabilillah.

Aku adalah seorang janda, dulu aku memiliki suami, ia dan saudara laki-lakinya semua syahid untuk menegakkan kalimat Allah, jika perempuan diwajibkan untuk berjihad tentu aku akan turut serta. Ketahuilah wahai Abu Qudamah, ketika suamiku wafat, ia meninggalkan anak laki-laki yang amat baik akhlaknya, bagus rupanya, ia telah hafal al Qur’an, mahir menunggang kuda dan jago memanah, ia anak yang senang menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah dan siang harinya dengan berpuasa, umurnya baru 15 tahun, kini ia bekerja di ladang peninggalan ayahnya, sebentar lagi ia akan datang untuk menyertaimu berjihad, bawalah ia bersamamu sebagai HADIAH BAGI ALLAH, aku memintamu atas nama ketinggian Islam, jangan menahan pahala yang aku harapkan dari-Nya.”

Setelah itu aku mengambil beberapa buah tali kekang kuda yang ia buat dari rambutnya, ia berkata,  ”Biarkan aku melihat anda meletakkannya di atas sebagian pelanamu agar aku dapat menenangkan hatiku.” Akupun meletakkannya diatas pelanaku dan setelah itu akupun berangkat bersama para mujahidin keluar dari kota Raqqah.

Sesampainya kami di benteng Maslamah ibn Abdil Malik, tiba-tiba ada seorang penunggang kuda berkata dari belakangku, “Ya Aba Qudamah, berhentilah sebentar, semoga Allah merahmatimu!”
Akupun berdiri disampingnya, dia merangkulku seraya berkata, “Alhamdulillah, yang telah mengizinkanku berjumpa dan bersahabat denganmu dan tidak membiarkanku pulang dengan kekalahan dan tangan kosong.”

Aku menjawab dengan takjub, “Wahai putraku, tahan dirimu, biar aku melihat wajahmu, bila kamu sudah cukup umur, aku izinkan kamu ikut bersamaku jika umurmu belum cukup, aku akan mengembalikanmu kepada kedua orang tuamu.” Ternyata ia adalah seorang remaja yang berwajah cerah seperti bulan di malam purnama, garis wajahnya terlukis jejak nikmat yang pernah dikecapnya.
Aku melanjutkan pertanyaanku, “Apakah kamu masih memiliki ayah?”

Ia menjawab : “Tidak, bahkan aku keluar untuk berjihad karena mengikuti jejak ayahku yang syahid fi sabilillah, karena itu aku sangat berharap Allah Ta’ala anugerahkan aku syahid sebagaimana ayahku.”
Aku berkata, “Wahai putraku sayang, apakah kamu masih punya ibu?” Ia pun meng-iya-kannya.
Aku berkata, “Jika begitu minta izin dulu kepadanya, ketaatanmu padanya lebih utama dari jihad karena surga berada dibawah kilatan pedang dan dibawah telapak kaki ibu.”

Ia menjawab, “Wahai Abu Qudamah, apakah anda benar tidak mengenaliku?” Akupun menggelengkan kepala.

Ia melanjutkan, “Aku adalah putra dari seorang perempuan yang mengamanahkan sesuatu padamu. Apakah anda lupa wasiat seorang perempuan pemilik tali kekang? Aku mengharapkan syahid sebagaimana ayahku, aku meminta padamu atas nama Allah agar jangan menghalangiku meraih kemenangan di medan tempur, aku hafal al Qur’an, paham sunnah Nabi saw, aku terampil menunggang kuda dan jago memanah, aku tidak meninggalkan seorangpun ahli memanah di kota kami selain diriku, jangan anda meremehkanku lantaran usiaku yang masih remaja. Ibuku juga bersumpah agar aku jangan pulang sampai mendapatkan syahid.

Ibuku berpesan, ‘Anakku, jika engkau berjumpa dengan musuh, jangan memalingkan badan dan lari, hadiahkanlah dirimu untuk Allah. Mohon agar kamu selalu berada dalam lindungan-Nya serta mempertemukanmu dengan ayahmu dan paman-pamanmu yang shalih di surga-Nya. Jika Allah memberimu syahid jangan kamu lupakan ibu, mohonkan syafaat kepada Allah untukku karena aku pernah mendengar bahwa orang yang mati syahid diperkenankan oleh Allah memberi syafaat bagi 70 orang dari keluarganya’. Lalu ia memelukku dan mengangkat kepalanya ke arah langit seraya berkata, ‘Ya Allah, inilah anak laki-lakiku, pengharum jiwaku, buah hatiku, aku serahkan ia pada-Mu, maka dekatkan ia kepada ayahnya’.”

Setelah mendengar pengakuannya, aku menangis sejadi-jadinya, bangga dengan kebaikannya di saat begitu muda usianya, kelemahlembutan dan kesabaran ibunya.

“Hai pamanku, apa yang membuatmu menangis? Bila anda menangisi umurku yang masih muda, sungguh Allah akan mengazab orang yang lebih muda dariku jika ia bermaksiat kepada Allah.”
Aku mengatakan bahwa aku tidak menangisi umurnya tapi bagaimana dengan ibunya, bagaimana nanti kalau ia hidup tanpa dirinya.

Kamipun meneruskan perjalanan, kami bermalam disebuah tempat, saat pagi kamipun melanjutkan perjalanan, aku lihat anak itu tidak pernah berhenti berdzikir. Aku senang memperhatikannya, ia orang yang paling ahli mengendalikan kuda dibanding kami semua, ia banyak membantu saat kami istirahat dan bermalam. Semakin jauh kami berjalan semakin nampak kekuatan azzamnya, semakin tinggi semangatnya dan semakin tegar hatinya, cahaya kebahagiaan terpancar jelas terlukis di wajahnya.

Kami masih meneruskan perjalanan hingga hampir mendekati perkampungan orang-orang musyrik ketika matahari tenggelam di ufuk barat dan anak itupun memasak untuk kami berbuka puasa, hari itu kami semua berpuasa.

Saat malam anak itupun tertidur dengan nyenyak, bibirnya tersenyum saat ia tertidur, aku berkata kepada pasukanku, “Tidakkah kalian melihat senyumnya padahal ia masih tertidur.”

Ketika ia bangun dan sadar, aku berkata “Anakku, aku melihatmu tertidur namun kamu tersenyum dan tertawa.”

Ia menjawab, “Paman, saat aku tidur, aku bermimpi sangat indah, akupun tertawa gembira.” Aku bertanya, “Mimpi apa kamu?”

Ia bercerita, “Aku melihat ruangan di surga berwarna hijau, megah dan cantik. Saat aku berjalan mengitarinya, aku mendapati sebuah istana yang dindingnya terbuat dari permata, pintunya terbuat dari emas, tirainya sangat halus, aku melihat banyak bidadari menarik tirai tersebut, wajah mereka bersinar bak rembulan, ketika melihatku mereka berkata, ‘Selamat datang untukmu’. Aku ingin sekali menyentuhnya namun mereka mengatakan, ‘Jangan terburu-buru, waktu yang dijanjikan untukmu sebentar lagi akan datang’. Aku mendengar sebagian mereka mengatakan, ‘Ini adalah suaminya Mardhiyyah’.

Mereka menyuruhku mendekat dan ternyata didalam istana itu ada sebuah kamar yang terbuat dari emas berwarna merah, disana ada sebuah ranjang berwarna hijau, tiangnya terbuat dari perak berwarna sangat putih. Di atas kasur itu ada seorang bidadari sangat cantik wajahnya seterang mentari, jika Allah tidak membantu penglihatanku niscaya kedua mataku akan hilang. Akalku pun akan lenyap bersamaan karena tidak kuasa melihat keindahan kamar dan keelokan bidadari tadi. Ketika ia melihatku, ia berkata manis, ‘Selamat datang wahai wali Allah dan kekasih-Nya, kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu’.

Ketika aku akan memeluknya, ia berkata, ‘Sabarlah, jangan tergesa-gesa karena engkau adalah orang yang jauh dari kekejian, waktu kita untuk bertemu dan hidup bersama selamanya adalah esok hari saat adzan dzuhur. Karena itu bergembiralah!’”

Aku berkata, “Putraku, aku melihat kebaikan pada dirimu, semoga kebaikan pula yang terjadi atas dirimu.”

Malam itu kami takjub akan mimpi anak itu, ketika pagi seluruh pasukan menaiki kuda masing-masing, saat itu sangat jelas ada suara yang memanggil kami, “Wahai kuda-kuda Allah berlarilah, bergembiralah dengan surga !”

Tak lama setelah itu pasukan musuh pun menghadang kami, seperti belalang yang beterbangan, orang pertama dari pasukan mujahidin yang menghadapi mereka adalah anak muda tadi, ia memporakporandakan barisan musuh, menggentarkan mereka dan banyak yang terbunuh baik dari prajurit dan perwira-perwira mereka. Ketika aku melihatnya aku segera menyusulnya dan menarik kekang kudanya sambil berkata, “Anakku sayang, mundurlah ke belakang, kamu masih sangat belia belum tahu siasat pertempuran.”

Ia menjawab, “Pamanku, tidakkah paman mendengar firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ [الأنفال/15
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).”

“Apakah paman ingin aku termasuk penghuni neraka?”

Ketika kami tengah berbicara, pasukan musyrikin bersatu dalam satu komando menyerang kami. Mereka berusaha memisahkan aku dengan pemuda tadi. Mereka merebutnya dariku, pertempuran memanas, setiap orang sibuk dengan lawan masing-masing. Banyak mujahidin yang syahid, ketika kedua pasukan saling menjauh, akupun berjalan dengan kudaku diantara para pejuang yang gugur, banyak darah mengalir diatas bumi. Wajah mereka sulit dikenali lantaran debu dan darah yang menyatu.

Saat aku mengitari para pejuang yang gugur, aku berhenti disamping anak muda yang tersungkur penuh debu. Ia tengah membalikkan tubuhnya di tumpukan debu, ia berkata, “Hai pasukan muslimin, demi Allah aku meminta kalian untuk memberitahukan kondisiku kepada pamanku, Abu Qudamah!”
Aku menghampirinya, tubuhnya telah bercampur dengan debu dan darah yang banyak sehingga ia sulit dikenali, aku berkata, “Akulah Abu Qudamah.”

Ia mengatakan, “Pamanku, demi Pemilik Ka’bah, mimpi itu ternyata benar. Aku adalah anak sang wanita yang menitipkan tali kekang padamu.” Aku mencium keningnya lalu mengusap debu dan darah dari wajahnya seraya berpesan padanya, “Putraku, jangan engkau lupakan pamanmu ini, Abu Qudamah. Jadikan aku jajaran orang yang engkau beri syafaat.”

Ia menjawab, “Orang sepertimu tidak akan terlupa, paman mengusap wajahku dengan bajumu, bajuku lebih berhak mengusap dari bajumu. Biarkan aku wahai paman, biarkan aku seperti bertemu dengan Rabb-ku, paman.. bidadari yang pernah aku ceritakan kemarin, kini berdiri didekat kepalaku menunggu ruhku keluar, ia berkata ‘Cepatlah keluar, aku sangat rindu padamu’. Demi Allah wahai paman, jika Allah mengembalikanmu dengan selamat, bawakan bajuku yang berlumur darah ini kepada ibuku yang sangat aku kasihi, berikan ini kepadanya agar ia percaya bahwa aku tidak menyia-nyiakan wasiatnya. Sampaikan salamku padanya dan beritakan bahwa aku tidak gentar menghadapi musuh dan katakan padanya bahwa Allah telah menerima hadiahnya.

Aku memiliki adik perempuan berusia 10 tahun, setiap aku masuk rumah dia-lah yang pertama menyalamiku, bila aku pergi dia-lah yang terakhir mendoakanku, dalam perjalanan kali ini pun dia mendoakanku dan mengucapkan selamat tinggal seraya berkata, ‘Kakakku, demi Allah jangan terlalu lama di perjalanan’. Jika bertemu dengannya maka sampaikan salamku untuknya dan katakan bahwa Allah-lah penjaganya setelah aku tiada sampai hari kiamat.”

Anak itu tersenyum padaku sambil berkata, “Aku bersaksi tidak ada Ilah kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, janji Allah adalah pasti dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, Maha benar Allah dan Rasul-Nya.”

Tidak lama berselang anak itupun meninggal dunia, kami mengafaninya lalu menguburkannya.

Setelah peperangan usai kami pun kembali ke kota Raqqah. Yang pertama ada dalam benakku adalah pergi ke rumah pemuda itu. Aku melihat seorang anak kecil dengan perawakan dan wajah mirip dengan pemuda tadi, ia berdiri di depan pintu rumahnya. Setiap orang yang lewat ditanya, “Paman, dari mana anda datang?” Setiap orang menjawab, “Dari medan tempur.” Ia kembali bertanya, “Apakah abangku tidak pulang bersama paman?”

Ketika aku mendengarnya aku mendekatinya, ia pun menanyakan hal yang sama kepadaku, ia mengatakan, “Aku melihat orang berdatangan, aku tidak melihat abangku diantara mereka.”

Aku tidak kuasa membendung kesedihan dan air mataku, namun aku masih menahannya. Aku katakan padanya, “Hai anakku, katakan kepada pemilik rumah ini, Abu Qudamah ingin bicara padanya dan telah berada di depan pintunya.”

Wanita itupun keluar dengan raut muka yang sudah berubah, aku mengucapkan salam padanya, ia menjawabnya sambil bertanya, “Apakah anda membawa berita gembira atau duka?”

Aku berkata, “Terangkan padaku perbedaan berita gembira dan berita duka, semoga Allah merahmatimu.”

Ia mengatakan, “Jika anakku pulang dengan selamat, maka anda`membawa berita duka. Namun jika anakku syahid fi sabilillah berarti anda membawa berita gembira.”

Aku berkata, “Bergembiralah, karena Allah telah menerima hadiah darimu!”
I
a pun menangis sambil berkata,”Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya tabungan di hari kiamat.”

Aku bertanya tentang adik dari sang pemuda, ia berkata, “Dia-lah perempuan kecil yang baru saja anda ajak bicara”, ia maju ke hadapanku, aku katakan padanya, “Kakakmu mengirimkan salam untukmu dan berpesan bahwa Allah-lah yang akan menggantikannya menjagamu sampai hari kiamat.”

Tiba-tiba ia berteriak dan tak sadarkan diri, aku menggerak-gerakkan tubuhnya, ternyata anak itu telah meninggal. Aku terkejut dengan apa yang aku alami. Aku pun pergi setelah menyerahkan baju pemuda tadi kepada ibunya dengan kesedihan yang mendalam atas putrinya, sungguh sang ibu adalah sosok yang tegar dan sabar.”

—
Ya Allah jadikanlah kami orang tua yang mampu menghadiahkan putra putrinya bagi-Mu sebagaimana yang telah dilakukan oleh salah seorang hamba-Mu yang shalihah ini.

Beratnya Godaan Wanita Zaman Modern


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Maa taraktu ba’diy fitnatan adharra ‘alar rijal minan nisaa’” (tidaklah aku tinggalkan sesudahku fitnah/godaan yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, selain godaan wanita.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Secara potensial kaum wanita merupakan godaan bagi kaum laki-laki. Ia merupakan salah satu unsur dari “tiga ta” (harta, tahta, dan wanita). Namun di zaman modern godaan wanita jauh lebih berat lagi.
Bagaimana bentuk godaan wanita di era sekarang?

[1]. Wanita modern terus-terang cantik-cantik. Mereka lebih cantik dari wanita-wanita zaman sebelumnya. Era sekarang sarana-sarana kecantikan melimpah-ruah. Salon, make up, sarana kebugaran (fitness), gaya hidup modis, media-media, hingga operasi plastik untuk mengubah penampilan lebih cantik. Dengan modal uang dan informasi, wanita sekarang bisa tampil cantik.

[2]. Pakaian wanita modern umumnya seksi-seksi. Bentuknya bisa pakaian ketat (pas badan), rok mini, celana pendek, dan seterusnya. Mereka bukan malu memperlihatkan keseksian, justru bangga.

[3]. Sikap wanita sekarang banyak yang berani atau agressif. Kalau dulu wanita identik dengan menunggu, tetapi sekarang mereka “aktif menyerang”. Kalau bukan laki-laki yang mendatangi mereka, mereka yang akan mendatangi laki-laki.

[4]. Banyak wanita sekarang mencari income dengan modal penampilan. Mereka benar-benar sadar bahwa kecantikan dan tampilan seksi itu menghasilkan uang. Mereka menjadi model, SPG, bintang iklan, dan seterusnya. Modal ilmu atau kecerdasan tak mesti harus ada, asalkan bisa tampil cantik, seksi, dan menggoda.

[5]. Wanita modern banyak yang galaw. Nah, ini masalah serius. Fitrah wanita kan tidak bisa hidup sendiri, mereka selalu membutuhkan pasangan hidup (suami). Sementara untuk mendapatkan pasangan itu perlu perjuangan ekstra, sehingga ada persaingan antar sesama wanita dalam kecantikan, penampilan, dan kenekatan.

Semua ini merupakan cobaan-cobaan berat yang dihadapi kaum laki-laki zaman sekarang, di segala umur, selain anak-anak kecil. Para suami, anak muda, mahasiswa, pelajar, bapak-bapak, hingga kakek-kakek, mendapati semua cobaan itu.

Ada baiknya kita selalu berdoa: Nas’alulloh al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhiroh (ya Allah kami meminta kepadamu keselamatan dalam urusan agama, urusan dunia, dan urusan Akhirat).

Atau baca doa yang terkenal dalam Al Qur’an: Robbana laa tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rohmah innaka antal wahhab (ya Rabbana, janganlah Engkau gelincirkan kami -ke dalam kesesatan- setelah Engkau berikan kami petunjuk, anugerahkan dari sisi-Mu berupa rahmat, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi karunia).

Baca doa-doa ini dalam kehidupan sehari-hari, ketika setelah shalat, atau ketika dihimpit godaan besar. Semoga Allah selalu melindungi kami, Anda, dan kaum Muslimin semuanya. Amin ya Arhama Rohimiin.

abu muhammad waskito

Jauh Beda - PKS dan Ikhwanul Muslimin


Suatu hari saya bertemu dengan salah seorang kawan yang baru saja pulang dari Mesir setelah menyelesaikan studi S-1 di Al-Azhar. Kini beliau menjabat sebagai staff ahli salah satu Anggota DPR RI F-PKS.

Dalam dialog ini saya bertanya tentang Ikhwanul Muslimin di Mesir, saya awali dengan pertanyaan:

“Ustad HNW pernah bilang PKS bukan IM, antum tau alasan beliau bilang seperti itu akhi?”

kawan saya ini dengan enteng menjawab “jelaslah kita bukan IM, karena kualitas kita jauh dari IM”

“Maksud antum apa?” tanya saya lagi.

“Akhi, kalau kader PKS di Indonesia memang yang Hafidz Qur’an banyak, namun bukan mayoritas kader, sedangkan di Mesir sana kader IM yang tidak hafidz Qur’an mungkin yang jadi minoritas, dari satu kampung ke kampung lainnya engkau akan menemukan seorang kader yang pasti seorang hafidzul Qur’an, dan yang hafidz Quran bukan cuman kader-kader elit yang marhalah tarbiyahnya tinggi akhi, tapi kader-kader muda biasa kayak ana dan antum juga mayoritas hafidz”.

Saya hanya manggut-manggut, teringat diri ini bahwa menjadi hafidzul Qur'an adalah hal yang luar biasa, tidak semua orang bisa menjadi hafidzul Qur'an. Hanya mereka yang benar-benar menjaga ketakwaan pada Allah, menjaga pandangan dan segala hari hal-hal yang haram yang mampu menjadi seorang penghapal Qur'an.

Masih terus nyerocos penuh antusias kawan saya melanjutkan “kalau antum ke Mesir, semakin antum ke kampung, maka akan semakin banyak kader dan simpatisan IM. Mereka begitu merakyat, hidup mereka adalah hidup rakyat Mesir. IM semakin kuat di pedesaan karena kerja mereka begitu nyata terasa di masyarakat. Setiap ada kejadian apapun yang menimpa masyarakat, yakinlah disana ada seorang kader IM yang sudah sampai untuk membantu”. 
 (Opini : Hadiyan Faris Azhar, lihat selengkapnya di sini)
----------------------------------------------------------
tanggapan:
Kalau di Indonesia, 
yang banyak duit dan massa, itu yang diangkat jadi kader untuk maju dalam pemilu.
yang paling besar 'mahar' nya, itu yang diberi perahu.
pemimpin yang diangkat/diusung, bukan lagi dilihat dari segi akhlaknya.
bukan dilihat dari segi shidiq, fathonah, dan amanah nya.
tapi dari elektabilitas dan popularitasnya.
dan tebal kantongnya...

Ust Abi Syakir pernah menceritakan pengalamannya,

Ada sebuah peristiwa menarik bertahun-tahun silam, menjelang Indonesia memasuki era Reformasi. Saya lupa waktunya, mungkin tahun 1996 atau 1997. Waktu itu di Masjid Al Manar Jl. Puter Bandung diadakan bedah buku Memoar Hasan Al Banna. Buku ini diterbitkan oleh Era Intermedia dari Solo. Hadir sebagai pembicara pimpinan Era Intermedia sendiri dan KH. Rahmat Abdullah.
Dalam sessi tanya-jawab, Ustadz Rahmat rahimahullah ditanya tentang eksistensi Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Singkat kata, adakah Ikhwanul Muslimin di Indonesia? Secara mengejutkan, beliau malah menjawab: “Wallahu A’lam, ada atau tidak.” Saya terus terang kecewa dan berburuk sangka kepada Ustadz Rahmat Abdullah ketika itu. “Masak sih, ada kader-kader Tarbiyah (IM) sedemikian banyak, kok dibilang wallahu A’lam?” begitu pertanyaan saya di hati.
Luar biasanya, jawaban Ustadz Rahmat Abdullah diulang kembali ketika beliau diwawancarai wartawan Suara Hidayatullah. Malah dalam wawancara itu beliau didesak-desak terus oleh sang wartawan untuk mengakui, bahwa Jamaah Tarbiyah di Indonesia, adalah representasi dari Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tetapi berulang-ulang beliau tidak memberi jawaban tegas. Kesannya sama seperti dalam bedah buku di atas, jawaban sengaja ‘digantung’.
Alasan Ustadz Rahmat sangat menarik. Kata beliau, kurang-lebih, “Kalau kita mengaku bagian dari Ikhwanul Muslimin Mesir, apa memang kita ini sudah memiliki kualitas seperti mereka?” Bahkan, ketika beliau diberitahu bahwa Habib Husein Al Habsyi telah mendeklarasikan berdirinya Ikhwanul Muslimin Indonesia, beliau mengecam hal itu dengan sengit. “Kalau ada yang mengklaim, biar dia makan klaimnya,” kata Ustadz Rahmat tegas.
Saya semula menyangka, pernyataan Ustadz Rahmat itu adalah bagian dari diplomasi, atau katakanlah menjaga amniyah(kerahasiaan). Kalau diakui secara jujur, khawatir nanti komunitas Jamaah Tarbiyah atau Partai Keadilan (PK) ketika itu akan diberangus habis oleh kekuasaan. Ya, katakanlah pernyataan beliau hanya semata diplomasi belaka.
Namun jujur saja, ketika saya melihat sikap-sikap PKS dewasa ini, saya sangat ragu bahwa mereka adalah bagian dari jaringan dakwah Ikhwanul Muslimin di Mesir. Bagi yang menyimak perkembangan Al Ikhwan di Timur Tengah, pasti akan merasa ragu melihat sikap PKS selama ini. Benarkah partai ini representasi Al Ikhwan? Atau hanyangaku-ngaku saja? Kenyataannya, perbedaan sikap di antara mereka amatlah tajam.
Seorang tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir, Kamaluddin As Saraniri (saya yakin orang-orang PKS saat ini banyak yang tidak tahu tokoh ini). Beliau pernah diminta menandatangani surat yang isinya mengakui kepemimpinan Anwar Sadat dan meminta maaf kepadanya. Dengan sangat tegas beliau mengatakan, “Kalau sepatuku ini mau tunduk kepada Anwar Sadat, ia akan aku buang.” Atas sikap kerasnya itu beliau mendapat hukuman eksekusi di selnya sendiri. Bandingkan dengan sikap PKS yang sangat pro kekuasaan, siapapun yang memegang tampuk kekuasaan itu. PKS bukan saja pro kekuasaan, tetapi tidak malu-malu menampakkan diri dengan maneuver-manuver menggelikan.
Kemudian lihatlah sikap tegas Hamas kepada Israel. Biarpun tokoh-tokoh Hamas sudah banyak yang terbunuh oleh kezhaliman Israel, mereka tetap teguh dengan pendiriannya. Mereka tidak menginginkan, kecuali Israel keluar dari bumi Palestina. Hamas itu jelas-jelas sosok Ikhwanul Muslimin sejati. Jelas yang demikian ini sangat berbeda dengan PKS di Indonesia.
Bahkan, sampai saat ini Ikhwanul Muslimin masih menyertai gerakan jihad fisik di Iraq dan Afghanistan, selain di Palestina tentunya. Selain pemuda-pemuda Saudi, banyak pemuda Al Ikhwan berjuang di Irak mengusir penjajah. Berbeda dengan PKS yang kemarin itu “berjihad” dengan mengumpulkan sedekah untuk membantu korban bencana kemanusiaan di Ghaza. Tifatul Sembiring secara jelas mengatakan di media-media, mereka tidak berkepentingan dengan jihad fisik, tetapi lebih ke soal charity untuk membantu korban peperangan di Ghaza.
Di Turki pun, kader-kader Al Ikhwan memiliki sikap yang militan. Baik Refah, Najamuddin Erbakan, maupun Erdogan, mereka tidak ragu-ragu untuk bersikap tegas dalam pendirian politiknya. Seperti Erdogan yang mengecam keras Shimon Perez dalam pertemuan di Davos yang menghebohkan dunia itu. Tipikal tegasnya Al Ikhwan ada disana.
Malah sampai saat ini, penangkapan kader-kader Al Ikhwan di Mesir tidak pernah berakhir. Ia terus terjadi. Termasuk beberapa puluh pemuda Al Ikhwan yang ditangkap Pemerintah Mesir karena mau menyebrang ke Ghaza. Ingat lho, ini peristiwa aktual, baru beberapa bulan lalu saat Tragedi Ghaza meletus. Ini bukan peristiwa di jaman Syaikh Al Banna atau Syaikh Sayyid Quthb rahimahumallah di masa lalu.
Parameter lain. Tidak ada tokoh-tokoh PKS yang menjadi para alim, ahli ilmiah Islam yang mumpuni. Padahal, Al Ikhwan banyak melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan Islam yang terkenal. Tokoh-tokoh seperti Said Ramadhan Al Buthi, Thaha Jabir Al Ulwani, Abdullah Nashih Ulwan, Jasim Al Muhalhil, dll. sangat banyak. Kalau di Palestina memang jarang melahirkan tokoh-tokoh ahli ilmu, tetapi dari Mesir dan negara-negara Timur Tengah  lainnya, banyak lahir ilmuwan Islam.
Padahal kalau mau jujur, beberapa elit PKS adalah doktor-doktor di bidang ilmiah Islam. Mengapa ilmunya yang sudah puluhan tahun dikejar seperti tidak dipakai? Masak ilmu sebanyak itu hanya dipakai sebagai “roket” pendorong kepentingan politik? Termasuk para ustadz yang bergelar Lc, alumni Saudi maupun LIPIA. Masak semuanya tumplek blek untuk urusan politik semua? Aneh bin ajaib.
Begitu pula, jamaah Al Ikhwan terkenal dengan tradisi menghafal Al Qur’an di kalangan mereka. Konon, mahasiswa-mahasiswa Kedokteran di Mesir, rata-rata sudah hafizh Al Qur’an. Menurut seorang kenalan baik di Jakarta, budaya Al Qur’an di Mesir itu sangat kuat. Sampai para satpam pun, saat-saat senggang mereka membaca Al Qur’an.
Tapi kalau melihat komunitas PKS saat ini, apakah mereka benar-benar menghidupkan Al Qur’an dengan membaca, menghafal, dan mentadabburinya? Saya tidak yakin hal itu. Sebab, seperti yang disebutkan Sayyid Quthb, buah dari interaksi yang intens dengan Al Qur’an akan melahirkan banyak barakah. Sedangkan kalau melihat sikap-sikap politik PKS akhir-akhir ini, bagian mana yang disebut barakahnya?
Semua ini menunjukkan, bahwa ada yang salah dari partai ini kalau mengaitkan diri dengan Al Ikhwan. Dan ada hal-hal lain yang bisa digali sebagai parameter pelengkap.
Lalu karakter Ikhwanul Muslimin sendiri seperti apa?
Setahu saya, wallahu A’lam bisshawaab, mereka memiliki karakter sebagai berikut:
[-] Minat kepada kajian ilmiah Islam. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya lahir penulis-penulis Al Ikhwan, banyak dosen-dosen ilmu Syar’i di Al Azhar maupun Universitas-universitas Saudi, Qatar, dan lainnya.
[-] Komitmen kepada Syariat Islam. Sampai jabatanMursyid Aam Ikhwanul Muslimin dipegang oleh Syaikh Muhammad Mahdi Akib saat ini, belum pernah ada pernyataan Mursyid Aam Ikhwan yang melegitimasi aliran sesat, sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.
[-] Anti terhadap anasir-anasir asing (kafir) di dunia Islam. Ini sikap yang jelas dan banyak buktinya. Bahkan, sebenarnya jamaah Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Syaikh Al Banna di Mesir ialah untuk: Mengusir penjajah Inggris dari Mesir, dan menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah. Meskipun kemudian sikap pemimpin-pemimpin Ikhwan tidak sefrontal Al Banna dan Sayyid Quthb, tetapi perlawanan mereka terhadap penjajah asing tetap kuat. Buktinya ialah jihad di Palestina, Afghanistan, dan Irak saat ini.
Akhirnya, saya mengerti ucapan Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullahyang disebutkan di bagian muka. Benar kata beliau, kalau hanya mengklaim saja mudah. Tetapi apakah suatu kaum telah memiliki kualitas seperti pihak yang diklaimnya? Nah, itulah pertanyaannya.
Silakan Anda renungkan sendiri baik-baik, seraya memohon pertolongan dan petunjuk Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Wallahu A’lam bisshawaab.
- See more at: http://tarbiyahbukanpks.com/antara-pks-dan-ikhwanul-muslimin/#sthash.qPceHa3O.dpuf
Ada sebuah peristiwa menarik bertahun-tahun silam, menjelang Indonesia memasuki era Reformasi. Saya lupa waktunya, mungkin tahun 1996 atau 1997. Waktu itu di Masjid Al Manar Jl. Puter Bandung diadakan bedah buku Memoar Hasan Al Banna. Buku ini diterbitkan oleh Era Intermedia dari Solo. Hadir sebagai pembicara pimpinan Era Intermedia sendiri dan KH. Rahmat Abdullah.

Dalam sessi tanya-jawab, Ustadz Rahmat rahimahullah ditanya tentang eksistensi Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Singkat kata, adakah Ikhwanul Muslimin di Indonesia? Secara mengejutkan, beliau malah menjawab: “Wallahu A’lam, ada atau tidak.” Saya terus terang kecewa dan berburuk sangka kepada Ustadz Rahmat Abdullah ketika itu. “Masak sih, ada kader-kader Tarbiyah (IM) sedemikian banyak, kok dibilang wallahu A’lam?” begitu pertanyaan saya di hati.

Luar biasanya, jawaban Ustadz Rahmat Abdullah diulang kembali ketika beliau diwawancarai wartawan Suara Hidayatullah. Malah dalam wawancara itu beliau didesak-desak terus oleh sang wartawan untuk mengakui, bahwa Jamaah Tarbiyah di Indonesia, adalah representasi dari Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tetapi berulang-ulang beliau tidak memberi jawaban tegas. Kesannya sama seperti dalam bedah buku di atas, jawaban sengaja ‘digantung’.

Alasan Ustadz Rahmat sangat menarik. Kata beliau, kurang-lebih, “Kalau kita mengaku bagian dari Ikhwanul Muslimin Mesir, apa memang kita ini sudah memiliki kualitas seperti mereka?” Bahkan, ketika beliau diberitahu bahwa Habib Husein Al Habsyi telah mendeklarasikan berdirinya Ikhwanul Muslimin Indonesia, beliau mengecam hal itu dengan sengit. “Kalau ada yang mengklaim, biar dia makan klaimnya,” kata Ustadz Rahmat tegas.

Saya semula menyangka, pernyataan Ustadz Rahmat itu adalah bagian dari diplomasi, atau katakanlah menjaga amniyah(kerahasiaan). Kalau diakui secara jujur, khawatir nanti komunitas Jamaah Tarbiyah atau Partai Keadilan (PK) ketika itu akan diberangus habis oleh kekuasaan. Ya, katakanlah pernyataan beliau hanya semata diplomasi belaka.

Namun jujur saja, ketika saya melihat sikap-sikap PKS dewasa ini, saya sangat ragu bahwa mereka adalah bagian dari jaringan dakwah Ikhwanul Muslimin di Mesir. Bagi yang menyimak perkembangan Al Ikhwan di Timur Tengah, pasti akan merasa ragu melihat sikap PKS selama ini. Benarkah partai ini representasi Al Ikhwan? Atau hanya ngaku-ngaku saja? Kenyataannya, perbedaan sikap di antara mereka amatlah tajam.

Seorang tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir, Kamaluddin As Saraniri (saya yakin orang-orang PKS saat ini - apalagi yang baru gabung- banyak yang tidak tahu tokoh ini). Beliau pernah diminta menandatangani surat yang isinya mengakui kepemimpinan Anwar Sadat dan meminta maaf kepadanya. Dengan sangat tegas beliau mengatakan, “Kalau sepatuku ini mau tunduk kepada Anwar Sadat, ia akan aku buang.” Atas sikap kerasnya itu beliau mendapat hukuman eksekusi di selnya sendiri. Bandingkan dengan sikap PKS yang sangat pro kekuasaan, siapapun yang memegang tampuk kekuasaan itu. PKS bukan saja pro kekuasaan, tetapi tidak malu-malu menampakkan diri dengan maneuver-manuver menggelikan.

Kemudian lihatlah sikap tegas Hamas kepada Israel. Biarpun tokoh-tokoh Hamas sudah banyak yang terbunuh oleh kezhaliman Israel, mereka tetap teguh dengan pendiriannya. Mereka tidak menginginkan, kecuali Israel keluar dari bumi Palestina. Hamas itu jelas-jelas sosok Ikhwanul Muslimin sejati. Jelas yang demikian ini sangat berbeda dengan PKS di Indonesia.

Bahkan, sampai saat ini Ikhwanul Muslimin masih menyertai gerakan jihad fisik di Iraq dan Afghanistan, selain di Palestina tentunya. Selain pemuda-pemuda Saudi, banyak pemuda Al Ikhwan berjuang di Irak mengusir penjajah. Berbeda dengan PKS yang kemarin itu “berjihad” dengan mengumpulkan sedekah untuk membantu korban bencana kemanusiaan di Ghaza. Tifatul Sembiring secara jelas mengatakan di media-media, mereka tidak berkepentingan dengan jihad fisik, tetapi lebih ke soal charity untuk membantu korban peperangan di Ghaza.

Di Turki pun, kader-kader Al Ikhwan memiliki sikap yang militan. Baik Refah, Najamuddin Erbakan, maupun Erdogan, mereka tidak ragu-ragu untuk bersikap tegas dalam pendirian politiknya. Seperti Erdogan yang mengecam keras Shimon Perez dalam pertemuan di Davos yang menghebohkan dunia itu. Tipikal tegasnya Al Ikhwan ada disana.

Malah sampai saat ini, penangkapan kader-kader Al Ikhwan di Mesir tidak pernah berakhir. Ia terus terjadi. Termasuk beberapa puluh pemuda Al Ikhwan yang ditangkap Pemerintah Mesir karena mau menyebrang ke Ghaza. Ingat lho, ini peristiwa aktual, baru beberapa bulan lalu saat Tragedi Ghaza meletus. Ini bukan peristiwa di jaman Syaikh Al Banna atau Syaikh Sayyid Quthb rahimahumallah di masa lalu.

Parameter lain. Tidak ada tokoh-tokoh PKS yang menjadi para alim, ahli ilmiah Islam yang mumpuni. Padahal, Al Ikhwan banyak melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan Islam yang terkenal. Tokoh-tokoh seperti Said Ramadhan Al Buthi, Thaha Jabir Al Ulwani, Abdullah Nashih Ulwan, Jasim Al Muhalhil, dll. sangat banyak. Kalau di Palestina memang jarang melahirkan tokoh-tokoh ahli ilmu, tetapi dari Mesir dan negara-negara Timur Tengah  lainnya, banyak lahir ilmuwan Islam.

Padahal kalau mau jujur, beberapa elit PKS adalah doktor-doktor di bidang ilmiah Islam. Mengapa ilmunya yang sudah puluhan tahun dikejar seperti tidak dipakai? Masak ilmu sebanyak itu hanya dipakai sebagai “roket” pendorong kepentingan politik? Termasuk para ustadz yang bergelar Lc, alumni Saudi maupun LIPIA. Masak semuanya tumplek blek untuk urusan politik semua? Aneh bin ajaib.

Begitu pula, jamaah Al Ikhwan terkenal dengan tradisi menghafal Al Qur’an di kalangan mereka. Konon, mahasiswa-mahasiswa Kedokteran di Mesir, rata-rata sudah hafizh Al Qur’an. Menurut seorang kenalan baik di Jakarta, budaya Al Qur’an di Mesir itu sangat kuat. Sampai para satpam pun, saat-saat senggang mereka membaca Al Qur’an.

Tapi kalau melihat komunitas PKS saat ini, apakah mereka benar-benar menghidupkan Al Qur’an dengan membaca, menghafal, dan mentadabburinya? Saya tidak yakin hal itu. Sebab, seperti yang disebutkan Sayyid Quthb, buah dari interaksi yang intens dengan Al Qur’an akan melahirkan banyak barakah. Sedangkan kalau melihat sikap-sikap politik PKS akhir-akhir ini, bagian mana yang disebut barakahnya?

Semua ini menunjukkan, bahwa ada yang salah dari partai ini kalau mengaitkan diri dengan Al Ikhwan. Dan ada hal-hal lain yang bisa digali sebagai parameter pelengkap.

Lalu karakter Ikhwanul Muslimin sendiri seperti apa?

Setahu saya, wallahu A’lam bisshawaab, mereka memiliki karakter sebagai berikut:
[-] Minat kepada kajian ilmiah Islam. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya lahir penulis-penulis Al Ikhwan, banyak dosen-dosen ilmu Syar’i di Al Azhar maupun Universitas-universitas Saudi, Qatar, dan lainnya.
[-] Komitmen kepada Syariat Islam. Sampai jabatanMursyid Aam Ikhwanul Muslimin dipegang oleh Syaikh Muhammad Mahdi Akib saat ini, belum pernah ada pernyataan Mursyid Aam Ikhwan yang melegitimasi aliran sesat, sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.
[-] Anti terhadap anasir-anasir asing (kafir) di dunia Islam. Ini sikap yang jelas dan banyak buktinya. Bahkan, sebenarnya jamaah Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Syaikh Al Banna di Mesir ialah untuk: Mengusir penjajah Inggris dari Mesir, dan menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah. Meskipun kemudian sikap pemimpin-pemimpin Ikhwan tidak sefrontal Al Banna dan Sayyid Quthb, tetapi perlawanan mereka terhadap penjajah asing tetap kuat. Buktinya ialah jihad di Palestina, Afghanistan, dan Irak saat ini.
Akhirnya, saya mengerti ucapan Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah yang disebutkan di bagian muka. Benar kata beliau, kalau hanya mengklaim saja mudah. Tetapi apakah suatu kaum telah memiliki kualitas seperti pihak yang diklaimnya? Nah, itulah pertanyaannya.

Silakan Anda renungkan sendiri baik-baik, seraya memohon pertolongan dan petunjuk Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Wallahu A’lam bisshawaab.

Ada sebuah peristiwa menarik bertahun-tahun silam, menjelang Indonesia memasuki era Reformasi. Saya lupa waktunya, mungkin tahun 1996 atau 1997. Waktu itu di Masjid Al Manar Jl. Puter Bandung diadakan bedah buku Memoar Hasan Al Banna. Buku ini diterbitkan oleh Era Intermedia dari Solo. Hadir sebagai pembicara pimpinan Era Intermedia sendiri dan KH. Rahmat Abdullah.
Dalam sessi tanya-jawab, Ustadz Rahmat rahimahullah ditanya tentang eksistensi Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Singkat kata, adakah Ikhwanul Muslimin di Indonesia? Secara mengejutkan, beliau malah menjawab: “Wallahu A’lam, ada atau tidak.” Saya terus terang kecewa dan berburuk sangka kepada Ustadz Rahmat Abdullah ketika itu. “Masak sih, ada kader-kader Tarbiyah (IM) sedemikian banyak, kok dibilang wallahu A’lam?” begitu pertanyaan saya di hati.
Luar biasanya, jawaban Ustadz Rahmat Abdullah diulang kembali ketika beliau diwawancarai wartawan Suara Hidayatullah. Malah dalam wawancara itu beliau didesak-desak terus oleh sang wartawan untuk mengakui, bahwa Jamaah Tarbiyah di Indonesia, adalah representasi dari Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tetapi berulang-ulang beliau tidak memberi jawaban tegas. Kesannya sama seperti dalam bedah buku di atas, jawaban sengaja ‘digantung’.
Alasan Ustadz Rahmat sangat menarik. Kata beliau, kurang-lebih, “Kalau kita mengaku bagian dari Ikhwanul Muslimin Mesir, apa memang kita ini sudah memiliki kualitas seperti mereka?” Bahkan, ketika beliau diberitahu bahwa Habib Husein Al Habsyi telah mendeklarasikan berdirinya Ikhwanul Muslimin Indonesia, beliau mengecam hal itu dengan sengit. “Kalau ada yang mengklaim, biar dia makan klaimnya,” kata Ustadz Rahmat tegas.
Saya semula menyangka, pernyataan Ustadz Rahmat itu adalah bagian dari diplomasi, atau katakanlah menjaga amniyah(kerahasiaan). Kalau diakui secara jujur, khawatir nanti komunitas Jamaah Tarbiyah atau Partai Keadilan (PK) ketika itu akan diberangus habis oleh kekuasaan. Ya, katakanlah pernyataan beliau hanya semata diplomasi belaka.
Namun jujur saja, ketika saya melihat sikap-sikap PKS dewasa ini, saya sangat ragu bahwa mereka adalah bagian dari jaringan dakwah Ikhwanul Muslimin di Mesir. Bagi yang menyimak perkembangan Al Ikhwan di Timur Tengah, pasti akan merasa ragu melihat sikap PKS selama ini. Benarkah partai ini representasi Al Ikhwan? Atau hanyangaku-ngaku saja? Kenyataannya, perbedaan sikap di antara mereka amatlah tajam.
Seorang tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir, Kamaluddin As Saraniri (saya yakin orang-orang PKS saat ini banyak yang tidak tahu tokoh ini). Beliau pernah diminta menandatangani surat yang isinya mengakui kepemimpinan Anwar Sadat dan meminta maaf kepadanya. Dengan sangat tegas beliau mengatakan, “Kalau sepatuku ini mau tunduk kepada Anwar Sadat, ia akan aku buang.” Atas sikap kerasnya itu beliau mendapat hukuman eksekusi di selnya sendiri. Bandingkan dengan sikap PKS yang sangat pro kekuasaan, siapapun yang memegang tampuk kekuasaan itu. PKS bukan saja pro kekuasaan, tetapi tidak malu-malu menampakkan diri dengan maneuver-manuver menggelikan.
Kemudian lihatlah sikap tegas Hamas kepada Israel. Biarpun tokoh-tokoh Hamas sudah banyak yang terbunuh oleh kezhaliman Israel, mereka tetap teguh dengan pendiriannya. Mereka tidak menginginkan, kecuali Israel keluar dari bumi Palestina. Hamas itu jelas-jelas sosok Ikhwanul Muslimin sejati. Jelas yang demikian ini sangat berbeda dengan PKS di Indonesia.
Bahkan, sampai saat ini Ikhwanul Muslimin masih menyertai gerakan jihad fisik di Iraq dan Afghanistan, selain di Palestina tentunya. Selain pemuda-pemuda Saudi, banyak pemuda Al Ikhwan berjuang di Irak mengusir penjajah. Berbeda dengan PKS yang kemarin itu “berjihad” dengan mengumpulkan sedekah untuk membantu korban bencana kemanusiaan di Ghaza. Tifatul Sembiring secara jelas mengatakan di media-media, mereka tidak berkepentingan dengan jihad fisik, tetapi lebih ke soal charity untuk membantu korban peperangan di Ghaza.
Di Turki pun, kader-kader Al Ikhwan memiliki sikap yang militan. Baik Refah, Najamuddin Erbakan, maupun Erdogan, mereka tidak ragu-ragu untuk bersikap tegas dalam pendirian politiknya. Seperti Erdogan yang mengecam keras Shimon Perez dalam pertemuan di Davos yang menghebohkan dunia itu. Tipikal tegasnya Al Ikhwan ada disana.
Malah sampai saat ini, penangkapan kader-kader Al Ikhwan di Mesir tidak pernah berakhir. Ia terus terjadi. Termasuk beberapa puluh pemuda Al Ikhwan yang ditangkap Pemerintah Mesir karena mau menyebrang ke Ghaza. Ingat lho, ini peristiwa aktual, baru beberapa bulan lalu saat Tragedi Ghaza meletus. Ini bukan peristiwa di jaman Syaikh Al Banna atau Syaikh Sayyid Quthb rahimahumallah di masa lalu.
Parameter lain. Tidak ada tokoh-tokoh PKS yang menjadi para alim, ahli ilmiah Islam yang mumpuni. Padahal, Al Ikhwan banyak melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan Islam yang terkenal. Tokoh-tokoh seperti Said Ramadhan Al Buthi, Thaha Jabir Al Ulwani, Abdullah Nashih Ulwan, Jasim Al Muhalhil, dll. sangat banyak. Kalau di Palestina memang jarang melahirkan tokoh-tokoh ahli ilmu, tetapi dari Mesir dan negara-negara Timur Tengah  lainnya, banyak lahir ilmuwan Islam.
Padahal kalau mau jujur, beberapa elit PKS adalah doktor-doktor di bidang ilmiah Islam. Mengapa ilmunya yang sudah puluhan tahun dikejar seperti tidak dipakai? Masak ilmu sebanyak itu hanya dipakai sebagai “roket” pendorong kepentingan politik? Termasuk para ustadz yang bergelar Lc, alumni Saudi maupun LIPIA. Masak semuanya tumplek blek untuk urusan politik semua? Aneh bin ajaib.
Begitu pula, jamaah Al Ikhwan terkenal dengan tradisi menghafal Al Qur’an di kalangan mereka. Konon, mahasiswa-mahasiswa Kedokteran di Mesir, rata-rata sudah hafizh Al Qur’an. Menurut seorang kenalan baik di Jakarta, budaya Al Qur’an di Mesir itu sangat kuat. Sampai para satpam pun, saat-saat senggang mereka membaca Al Qur’an.
Tapi kalau melihat komunitas PKS saat ini, apakah mereka benar-benar menghidupkan Al Qur’an dengan membaca, menghafal, dan mentadabburinya? Saya tidak yakin hal itu. Sebab, seperti yang disebutkan Sayyid Quthb, buah dari interaksi yang intens dengan Al Qur’an akan melahirkan banyak barakah. Sedangkan kalau melihat sikap-sikap politik PKS akhir-akhir ini, bagian mana yang disebut barakahnya?
Semua ini menunjukkan, bahwa ada yang salah dari partai ini kalau mengaitkan diri dengan Al Ikhwan. Dan ada hal-hal lain yang bisa digali sebagai parameter pelengkap.
Lalu karakter Ikhwanul Muslimin sendiri seperti apa?
Setahu saya, wallahu A’lam bisshawaab, mereka memiliki karakter sebagai berikut:
[-] Minat kepada kajian ilmiah Islam. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya lahir penulis-penulis Al Ikhwan, banyak dosen-dosen ilmu Syar’i di Al Azhar maupun Universitas-universitas Saudi, Qatar, dan lainnya.
[-] Komitmen kepada Syariat Islam. Sampai jabatanMursyid Aam Ikhwanul Muslimin dipegang oleh Syaikh Muhammad Mahdi Akib saat ini, belum pernah ada pernyataan Mursyid Aam Ikhwan yang melegitimasi aliran sesat, sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.
[-] Anti terhadap anasir-anasir asing (kafir) di dunia Islam. Ini sikap yang jelas dan banyak buktinya. Bahkan, sebenarnya jamaah Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Syaikh Al Banna di Mesir ialah untuk: Mengusir penjajah Inggris dari Mesir, dan menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah. Meskipun kemudian sikap pemimpin-pemimpin Ikhwan tidak sefrontal Al Banna dan Sayyid Quthb, tetapi perlawanan mereka terhadap penjajah asing tetap kuat. Buktinya ialah jihad di Palestina, Afghanistan, dan Irak saat ini.
Akhirnya, saya mengerti ucapan Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullahyang disebutkan di bagian muka. Benar kata beliau, kalau hanya mengklaim saja mudah. Tetapi apakah suatu kaum telah memiliki kualitas seperti pihak yang diklaimnya? Nah, itulah pertanyaannya.
Silakan Anda renungkan sendiri baik-baik, seraya memohon pertolongan dan petunjuk Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Wallahu A’lam bisshawaab.
- See more at: http://tarbiyahbukanpks.com/antara-pks-dan-ikhwanul-muslimin/#sthash.qPceHa3O.dpuf

Kritik Terhadap Konsep Tholabun Nusrah Hizbut Tahrir

Sunday, April 21, 2013

 

Apakah Tholabun Nushroh itu?

Tholabun Nushroh secara bahasa pengertiannya adalah mencari pertolongan. Istilah ini digunakan oleh Hizbut Tahrir sebagai suatu aktivitas dakwah dalam suatu tahapan dakwah. Sebagai gambaran maksud istilah Tholabun Nushroh menurut Hizbut Tahrir, disebutkan  sebagai berikut:

“Thalabun-nushrah adalah aktivitas mencari perlindungan dan kekuasaan yang dilakukan partai politik Islam pada penghujung tahapan kedua dakwah, yaitu tahapan berinteraksi dengan umat (at-tafa’ul ma’a al-ummah). Thalabun-nushrah bukanlah suatu tahapan (marhalah) dakwah, melainkan suatu amal (aktivitas) dakwah dalam suatu tahapan dakwah. Thalabun-nushrah dilakukan pada saat masyarakat, khususnya para pemimpinnya, menolak penerapan Islam dalam kehidupan bernegara dan terjadi tindakan represif seperti penganiayaan terhadap para aktivis partai politik yang berjuang menegakkan Khilafah (M. Husain Abdullah, Ath-Thariqah asy-Syar’iyah li Isti’naf al-Hayah al-Islamiyah, hlm. 90).

Thalabun-nushrah mempunyai dua tujuan: Pertama, mendapatkan perlindungan (himayah) bagi para individu pengemban dakwah dan kegiatan dakwahnya. Misal, Rasulullah saw. mendapat perlindungan dari pamannya (Abu Thalib), atau Rasulullah saw. mendapat jaminan keamanan dari Muth’im bin Adi sepulangnya dari Thaif. Kedua, untuk mendapatkan kekuasaan (al-hukm) guna menegakkan hukum Allah dalam negara Khilafah. Misal, dulu Rasulullah saw. menerima kekuasaan dari kaum Anshar sehingga beliau kemudian dapat menegakkan Daulah Islamiyah di Madinah (Manhaj Hizbut Tahrir, 2009, hal. 49; M. Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital, I/409)”

Thalabun-nushrah adalah thariqah (metode) yang tetap dan wajib dilaksanakan untuk menegakkan Khilafah. Jadi, thalabun-nushrah bukan uslub (cara) yang hukumnya mubah yang dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi. (Ahmad Al-Mahmud, Ad-Da’wah ila al-Islam, hlm. 34). 

Satu-satunya metode yang sahih untuk mendapatkan kekuasaan dan mendirikan Khilafah adalah thalabun-nushrah; bukan dengan cara-cara lain semisal mendirikan masjid, rumah sakit, sekolah; atau menolong kaum fakir-miskin dan mengajak pada akhlaqul karimah. Ini semua amal salih, tetapi bukan metode menegakkan Khilafah... (Ahmad al-Mahmud, Ad-Da’wah ila al-Islam, hlm. 37). 



Hukum ‘Tholabun Nusroh’

Tholabun Nusroh dalam pengertian meminta pertolongan kepada orang-orang kuat yang bisa memberi perlindungan adalah suatu metode yang pernah dilakukan Nabi Saw. dalam rangka menyebarkan ajaran Tauhid. Metode ini digunakan Hizbut Tahrir dalam rangka mendirikan khilafah. Meski tidak didapatkan ulama’ di madzhab manapun yang mewajibkan Tholabun Nushroh dan tidak ditemukan pembicaraan yang membahas hukum Tholabun Nushroh dalam kitab-kitab fiqih, Hizbut Tahrir menganggapnya suatu hal yang wajib, bahkan menganggapnya satu-satunya cara yang disyariatkan untuk mendirikan khilafah. Hizb tidak boleh menggunakan cara-cara lain, termasuk kekerasan –padahal ini adalah konsekwensi dari jihad fi sabilillah-.

Dalil wajibnya Tholabun Nushroh –menurut mereka- adalah karena inilah perbuatan yang dilakukan Rasulullah Saw. secara terus menerus – padahal sebenarnya hanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun-. Karena itu, perlu dibahas meski secara ringkas, kedudukan perbuatan Nabi Saw. dalam ilmu fiqih.

Ulama Ushul membagi perbuatan Rasulullah Saw. terbagi menjadi dua bagian:
  1.   Khusus untuk beliau saja
  2.   Berlaku juga untuk umat beliau. Bagian kedua ini terbagi menjadi 3 macam:
  •  wajib, baik ‘ain maupun kifayah
  •  mandub (sunnah)
  •  mubah
Untuk menentukan mana perbuatan Rasulullah Saw. yang wajib ditiru umatnya, mana yang mandub dan mana yang mubah, tentu diperlukan dalil khusus.
Tentang tholabun Nusroh yang dilakukan Nabi Saw., tidak ditemukan dalil yang menunjukkan bahwa itu wajib dilakukan umat beliau. Tidak juga didapatkan dalam sejarah atau hadits, bahwa para shahabat Nabi Saw. ikut dalam kegiatan Tholabun Nusroh ini. Ini mengindikasikan bahwa perbuatan ‘Tholabun Nusroh’ ini khusus untuk beliau saja, dan tidak wajib bagi umatnya.

Berterus-terusan Nabi Saw. dalam Tholabun Nusroh dan tidak berpindah ke metode lainnya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun tidak dapat dijadikan dalil wajibnya menempuh metode tersebut bagi umatnya. Alasannya:
  • pertama, banyak sekali perbuatan-perbuatan Nabi Saw. yang beliau kerjkan secara terus-menerus, bahkan tidak hanya 2 tahun, tapi hukumnya tidak wajib bagi umatnya. Contohnya dua rokaat fajar dan sholat witir.
  • kedua, seandainya ‘Tholabun Nusroh’ wajib bagi umat Nabi Saw, tentu saja beliau menjelaskan hal itu kepada para shahabat, apalagi di saat-saat mereka sangat butuh dengan pertolongan akibat tekanan orang-orang kafir Quraisy. Saat hijrah ke Habasyah, para shahabat juga tidak diperintah untuk ‘Tholabun Nusroh’ kepada Raja Najasyi. Padahal Rasulullah Saw. mengatakan tentangnya, “Tidak ada seorangpun yang didholimi di wilayahnya”. Artinya, raja tersebut sangat berpotensi menjadi ‘Ahlun Nusroh’.
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa kedudukan hukum ‘Tholabun Nusroh’ hanyalah mubah, bukan metode (thoriqoh) yang wajib, apalagi dijadikan syarat sah tegaknya khilafah. Sebagai hal yang mubah, tentu selayaknya dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Rasulullah Saw. sendiri berhenti bertholabun Nushroh ketika 70 orang Yatsrib berbaiat kepada beliau.

Pertanyaannya, perlukah kita bertholabun Nushroh padahal di tubuh umat banyak mujahid yang kuat melawan musuh-musuh Allah? Bukankah mereka adalah ‘Ahlul Quwwah’ yang dijamin eksistensinya oleh Allah sampai Hari Kiamat?

Perlukah Hizbut Tahrir bertholabun Nushroh, padahal anggotanya di seluruh dunia mencapai ratusan ribu –menurut klaim mereka-? Seandainya para pemuda mereka dilatih dan dipersenjatai –dan ini sekaligus untuk menunaikan kewajiban i’dad yang Allah perintahkan- , hal itu cukup untuk menolong tegaknya khilafah, tanpa harus ber-tholabun Nushroh kepada para militer sekuler.

Tapi sayang, tabanni Hizb tidak mengizinkan hal itu…

Praktek ‘Tholabun Nusroh’, beda dulu dengan sekarang!
Rasulullah Saw. melakukan ‘Tholabun Nushroh’ hanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Saat itu jumlah jama’ah beliau sedikit, sehingga tidak bisa menjadi kekuatan yang cukup untuk menolong dien yang diembannya. Karena itu, beliau bertholabun nushroh kepada kabilah-kabilah musyrik sekaligus mengajak mereka untuk masuk Islam. Setelah terdapat 70 orang Yatsrib yang berbaiat kepada beliau, serta sebidang tanah siap dijadikan tempat hijrah, Rasulullah Saw. berhenti melakukan ‘Tholabun Nushroh’. Beliau mencukupkan diri dengan orang-orang yang berasal dari suku Aus dan Khazraj tersebut. Artinya, kadar kecukupan ini membuat beliau tidak lagi ber-Tholabun Nushroh. Rasulullah Saw. pun menyuruh para shahabat untuk hijrah ke sebidang tanah itu, yang kemudian beliau namakan sebagai Madinatur Rasul. Sebelumnya daerah tersebut bernama Yatsrib. Dari tanah itulah futuhaat ke negeri-negeri sekitar dimulai.

Berbeda dengan apa yang dilakukan Rasulullah Saw., Hizbut Tahrir sudah bertholabun Nusroh lebih dari 50 tahun dan sampai sekarang masih bertholabun Nushroh. Hizbut Tahrir -menurut klaim mereka- beranggotakan ratusan ribu orang, tapi ternyata masih bertholabun Nushroh. Orang-orang yang diminta nushrohnya pun bukan orang-orang musyrik seperti ahlul quwwah yang diminta nushrohnya oleh Nabi Saw. dulu, tapi kaum muslimin yang sudah terlebih dahulu masuk Islam. Saat rakyat dan mujahidin di Afghonistan dan Checnya ingin ditegakkannya hukum Islam –dan inilah nushroh hakiki dari mereka kepada dien Allah-, dan negeri mereka siap dijadikan tempat hijrah dan i’dad, apa yang dilakukan Hizb?

Alih-alih menerima nushroh mereka, berhijrah dan menyuruh hijrah ke daerah tersebut -sebagaimana yang dilakukan Nabi Saw. dulu terhadap Yatsrib/Madinah-, Hizbut Tahrir malah terus saja bertholabun Nushroh di negeri-negeri sekuler, bahkan kepada para militer yang justru menjadi penopang pemerintah sekuler dan sangat jelas permusuhannya terhadap Islam serta loyalitasnya kepada pemimpin-pemimpin kekufuran.

Inikah makna mengikuti jejak Nabi Saw. seperti yang mereka klaim?

Ketika Imaroh Islam Afghanistan tegak dibawah kendali Tholiban dengan izin Allah berkat nushroh rakyatnya, kemudian Imaroh Islam Checnya, dan sampai sekarang masih eksis Daulah Islam Iraq yang didirikan mujahidin, sikap apa yang ditunjukkan Hizbut Tahrir?

Padahal dalam kitab berjudul Hizbut Tahrir halaman 44, dinyatakan: “Bahwa Hizbut Tahrir tidak menggunakan kekuatan fisik untuk mempertahankan dirinya atau untuk melawan penguasa maka hal tersebut merupakan perkara yang tidak berkaitan dengan  jihad. Adapun jihad, maka dia tetap tegak sampai hari kiamat. Apabila terdapat serangan musuh di suatu negeri Islam maka wajib bagi umat Islam yang tinggal di sana untuk menghalau mereka. Syabab Hizbut Tahrir sebagai bagian dari umat Islam yang hidup di negeri tersebut, maka merekapun ikut menanggung kewajiban yang dipikul oleh kaum muslimin di negeri itu untuk melawan musuh karena status mereka sebagai muslim. Dan apabila terdapat pemimpin muslim yang menyelenggarakan jihad untuk meninggikan kalimat Allah, dan meminta bantuan kepada manusia, maka Syabab Hizbut Tahrir memenuhi panggilan tersebut sebagai bagian dari kaum muslimin yang hidup di dalam negeri yang dimintai bantuan itu.”

lalu sikap apa?

Yang jelas, tidak terdengar dukungan dari mereka terhadap kelompok yang berhasil menegakkan hukum Allah itu..

Lantas pemerintahan Islam seperti apakah yang mereka inginkan? Apakah khilafah yang prinsip-prinsip dan pemikirannya selaras dengan Hizb?

Apakah ketidak adanya dukungan itu karena pendiri-pendiri Imaroh Islam tersebut adalah mujahidin yang tidak ber-tabanni dengan tabanni mereka?

Ada indikasi –bahkan inilah yang dirasakan dengan melihat realilta yang ada-, bahwa ‘Tholabun Nushrah’ adalah kaimatu haqqin yuradu bihil bathin.’Tholabun Nushroh’ dijadikan satu-satunya manhaj sehingga menggugurkan jihad dan memperbanyak anggota yang menerima prinsip-prinsip dan pemikiran-pemikiran Hizb, atau mendirikan khilafah dalam bentuk yang sudah digariskan dan ditetapkan Hizb, meski terdapat yang tidak sesuai dengan apa yang ditunjukkan nash-nash syari’at.

Tholabun Nushroh Bisa Jadi Haram!

Rasulullah Saw. bersabda: “Jihad (tetap) berlangsung sampai Hari Kiamat”

Suatu hal yang mubah, jika menyebabkan kemaksiatan atau ditinggalkannya suatu kewajiban, maka hukumnya berubah menjadi haram. Bahkan, amalan-amalan yang mandub (sunnah) sekalipun, jika menjadi penyebab ditinggalkannya amalan-amalan wajib, akan berubah menjadi haram pula.

Artinya, amalan-amalan wajib tidak boleh digugurkan dengan alasan mengerjakan amalan-amalan sunnah, apalagi mubah..

Jihad adalah kewajiban yang terus berlangsung sampai akhir zaman. .. sebagaimana ditunjukkan nash-nash dari Al-Qur’an dan hadits,

Bahkan ia menjadi manhaj ‘Thoifah Mashuroh’ yang terus eksis di setiap zaman, sampai bagian akhir mereka kelak memerangi Dajjal dan mendapat kemenangan dari Allah. Rasulullah Saw. bersabda:

لَا تزَالُ طائفةٌ منْ أمتي يقاتلونَ على الحقِّ ظاهرِينَ على منْ ناوَأَهمْ حتى يقاتلَ آخرُهمْ المسيحَ الدَّجال

Artinya:
Senantiasa ada sekompok dari umatku berperang di atas haq, unggul atas orang-orang yang melawan mereka sampai bagian akhir mereka memerangi Al-Masih Dajjal..
Jihad adalah kewajiban sampai Hari Kiamat bersama amir, baik yang baik maupun yang fajir, saat ada Daulah Islam maupun tidak ada. Ini adalah kesepakatan Ahlussunnah.

Dalam kitab ‘Dirosaat fil Fikril Islamiy’ bab jihad disebutkan:

الجهاد واجب على المسلمين في جميع الأحوال ، في حال وجود الدولة الإسلامية ، أو في حال عدم وجودها ، فهو ماض إلى يوم القيامة مع كل أمير برا كان أو فاجرا . . .

Jihad itu wajib atas muslimin di seluruh keadaan, saat ada negara Islam maupun tidak ada. Ia (tetap) berlangsung sampai Hari Kiamat bersama setiap amir, baik yang baik maupun yang fajir…

Dan itu juga diadospsi oleh An Nabhani, Dalam kitab  الشخصية الإسلامية juz II , An Nabhani mengatakan:

الجهاد فرض مطلق, ليس مقيدا بشيء, و لا مشروطا بشيء فالآية فيه مطلقة . فوجود الخليفة لا دخل له في فرض الجهاد, بل الجهاد فرض سواء كان هناك خليفة للمسلمين أم لم يكن


Jihad merupakan kewajiban yang muthlaq, tidak terikat oleh sesuatu pun dan tidak disyaratkan dengan apa pun, Ayat berikut di dalamnya terdapat hukum yg muthlaq (كتب علسكم القتال) -diwajibkan atas kalian perang- . maka, keberadaan kholifah tidak terkait dengan kewajiban jihad, akan tetap jihad adalah wajib, baik kaum muslimin memiliki kholifah ataupun tidak. (asy syakhshiyyah Al Islamliyyah Juz II, hal 151)

Apabila jihad sudah merupakan amalan wajib meski tidak ada Daulah Islam atau khilafah, bisakah ia gugur karena hal-hal yang mubah seperti ‘Tholabun Nushroh’? Tentu saja tidak. Kalau ‘Tholabun Nushroh’ dijadikan suatu manhaj yang disyari’atkan dalam melakukan perubahan, namun dengan ini kewajiban jihad digugurkan –sampai adanya kholifah- , maka apa yang bisa kita katakan tentang Tholabun Nushroh?

Tentu ‘Tholabun Nushoh’ yang asalnya mubah menjadi haram dilakukan..

[hafmin]
 
Support : Al-Mustaqbal.Net | Jamaah Tarbiyah | Ansar Mujahideen
Copyright © 2013. Catatan Anak Mushola Di Pontianak - All Rights Reserved
Saya hanya berusaha menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi
dengan kapasitas ilmu yang saya miliki